IHSG Akhirnya Ditutup Jatuh 11,57% ke Level Terendah Baru dalam 6 Tahun Terakhir, Semua Sektor Anjlok
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026), ditutup anjlok parah sebanyak 678,68 poin (11,57%) menjadi 5.185. Level tersebut menjadi yang terendah dalam enam tahun terakhir atau sejak Oktober 2026.
Penurunan IHSG BEI berbanding terbalik dengan pasar saham dunia yang tengah dilanda penguatan pesat. Penurunan indeks juga sejalan dengan kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ke atas level Rp 18.000. Hantaman pasar saham terjadi setelah MSCI mengusulkan standalone market Indonesia. Hal ini sempat membuat pasar saham terkena trading halt pada pembukaan.
Baca Juga
Pejabat Ramai-Ramai ke BEI , IHSG Malah makin Babak Belur ke 5.199 di Intraday Sesi II!
Penurunan ini juga sejalan dengan kejatuhan seluruh sektor saham, seperti sektor material dasar anjlok 13,36%, sektor infrastruktur turun 13%, sektor kesehatan jatuh 13,16%, sektor industry melemah 11,89%, sektor energi turun 11,39%, sektor konsumer primer melemah 11,12%, sektor konsumer non primer anjlok 10,11%, sektor transportasi turun 10,91%, sektor property melemah 9,63%, sektor keuangan melemah 8,98%, dan sektor teknologi turun 8,88%.
Penurunan tajam IHSG sejalan dengan kejatuhan mayoritas saham big cap hingga auto reject bawah (ARB), seperti BBCA, BBRI, BREN, BMRI, TPIA, ASII, TLKM, dan MORA. Saham ASII dan DCII tidak terkena ARB. Sebaliknya saham BYAN justru menguat.
Adapun tiga saham berikut justru berhasil menguat dengan catatkan auto reject atas (ARA), seperti saham BSWD naik 25% menjadi Rp 5.625, ABDA melesat 24,93% menjadi Rp 4.710, dan TRUK naik 24,81% menjadi Rp 3.220. Lompatan juga melanda saham PTSP sebanyak 20,72% menjadi Rp 2.010.
Baca Juga
OJK Jatuhkan Denda Rp 2,1 Triliun Terkait Transaksi Saham DSSA, BREN dan CUAN
Kemarin, IHSG ditutup turun signifikan 63,24 poin (1,33%) menjadi 5.863. Sebaliknya pemodal asing justru mencatatkan pembelian bersih (net buy) saham senilai Rp 567,96 miliar. Net buy terbanyak melanda saham BBCA senilai Rp 286,10 miliar, BBRI mencapai Rp 90,73 miliar, dan ENRG senilai Rp 72,32 miliar.
Pelemahan dipicu kejatuhan hampir seluruh saham big cap bersamaan dengan kejatuhan pasar saham Asia. Sejumlah big cap dengan kejatuhan dalam, yaitu saham BREN jatuh 6%, TEBE anjlok 14,65%, TPIA jatuh 5,67%, DSSA jatuh lebih dari 6%, BBCA jatuh hampir 1%, dan BYAN jatuh hampir 3%.
Meski IHSG terjerembab, beberapa saham ini justru berhasil catatkan kenaikan hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham AKKU melesat 34,62% menjadi Rp 105, BSWD naik 25% menjadi Rp 4.500, ALDO naik 24,92% menjadi Rp 1.955, PTSP naik 24,72% menjadi Rp 1.665, dan TFCO naik 24,61% menjadi Rp 2.000.
