Bitcoin Berpotensi Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) berpotensi kembali tertekan hingga di bawah US$80.000 apabila data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dirilis pada Rabu (14/10/2026) menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi pasar. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah berpeluang mendorong harga Bitcoin menuju US$86.000.
Menilik Coinmarketcap, Selasa (13/10/2026) pukul 15.45 WIB koin nomor wahid itu tengah berada di US$83.862, naik 0,17% dalam sehari dan turun 2,61% dalam sepekan.
CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis mengatakan, data inflasi AS menjadi salah satu indikator penting yang dicermati investor untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
“Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar bisa kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini berpotensi menekan Bitcoin melalui penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah,” kata Yudhono dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Bitcoin sebelumnya kembali bergerak di atas US$83.000 setelah mengalami tekanan akibat aksi ambil untung, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, pergerakan selanjutnya masih dipengaruhi perkembangan data ekonomi dan ekspektasi kebijakan moneter.
Selain data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) pada 14 Oktober, pasar juga akan mencermati data indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) pada 15 Oktober serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada 16 Oktober 2026.
Baca Juga
Jelang Rilis Inflasi AS, Harga Bitcoin Turun 3%, Ethereum dan XRP Terkoreksi Lebih Dalam
Menurut Yudhono, pemulihan harga Bitcoin juga membutuhkan dukungan permintaan yang lebih kuat, termasuk kembalinya arus dana masuk ke produk investasi spot Bitcoin exchange-traded fund (ETF) di AS. Arus dana keluar dari ETF sebelumnya menjadi salah satu indikator bahwa permintaan investor institusional belum konsisten.
“Pemulihan harga Bitcoin tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tetapi juga pada dukungan permintaan yang nyata. Jika arus dana masuk ETF kembali menguat, hal ini berpotensi mendukung pemulihan harga,” ujarnya.
Yudhono menambahkan, harga minyak, ketegangan geopolitik, data inflasi, dan arah kebijakan suku bunga The Fed juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
Di tengah potensi volatilitas, ia mengingatkan investor agar tidak hanya berfokus pada target harga, tetapi juga menerapkan pengelolaan risiko. Langkah tersebut mencakup pengaturan ukuran posisi, penentuan batas kerugian, serta kehati-hatian dalam menggunakan leverage.
Baca Juga
Harga Bitcoin Dibayangi Data Inflasi AS, Level US$ 85.000 Jadi Sorotan
Yudhono memperkirakan Bitcoin berpotensi bergerak dalam rentang US$75.000 hingga US$100.000 sampai akhir 2026, dengan asumsi tidak terjadi guncangan besar pada perekonomian global.
Skenario penurunan di bawah US$80.000 maupun pemulihan menuju US$86.000 tersebut bergantung pada perkembangan data ekonomi dan arus dana investor, sehingga belum dapat dipastikan sebagai arah pergerakan harga.
