Jelang Rilis Inflasi AS, Harga Bitcoin Turun 3%, Ethereum dan XRP Terkoreksi Lebih Dalam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) dan sejumlah aset kripto utama mengalami tekanan di tengah meningkatnya kehati-hatian investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS). Tekanan pasar dipicu oleh arus keluar dana dari produk exchange traded fund (ETF) institusional, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury, serta ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga minyak.
Selain Bitcoin, Ethereum dan XRP juga mengalami penurunan harga signifikan. Pelaku pasar kini mencermati laporan indeks harga konsumen (CPI) AS untuk mengukur arah inflasi dan prospek kebijakan moneter yang dapat memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk kripto.
Menilik data Coinmarketcap, Selasa (13/10/2026) pukul 07.30 WIB Bitcoin turun 2,93% dalam sehari ke posisi US$ 81.273, Ethereum juga minus 4,71% ke US$ 2.418, XRP juga kompak melempem 5,65% menjadi US$ 1,32 per koin. Kapitalisasi pasar kripto global turun 3,16% menjadi US$ 2,74 triliun di tengah tekanan terhadap aset digital. Sementara itu, indeks CMC20 terkoreksi 3,42% menjadi US$ 167,3.
Baca Juga
Harga Bitcoin Dibayangi Data Inflasi AS, Level US$ 85.000 Jadi Sorotan
Berdasarkan data Market Status, indeks Fear & Greed berada di level 52, yang menunjukkan sentimen pasar masih berada dalam zona netral (neutral). Penurunan kapitalisasi pasar mencerminkan melemahnya nilai pasar aset kripto secara keseluruhan. Koreksi CMC20 yang lebih dalam dibandingkan penurunan kapitalisasi pasar global juga menunjukkan tekanan pada aset-aset kripto yang tercakup dalam indeks tersebut. Meski demikian, indikator sentimen di level 52 belum menunjukkan dominasi ketakutan maupun keserakahan investor. Pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan harga aset kripto dan perubahan sentimen untuk melihat arah pergerakan pasar selanjutnya.
Di tengah tekanan tersebut, Ketua Eksekutif Strategy Michael Saylor baru-baru ini menyampaikan pandangan optimistis terhadap Bitcoin. Melalui pernyataan “The ₿ears are under control”, Saylor merespons sentimen negatif yang berkembang di pasar.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Saylor mengenai Bitcoin sebagai modal digital (digital capital). Ia juga memandang saham Strategy (MSTR) sebagai ekuitas digital (digital equity) dan STRC sebagai kredit digital (digital credit).
Pandangan tersebut mencerminkan keyakinan Saylor terhadap ekosistem produk keuangan berbasis Bitcoin, di tengah keraguan investor terhadap prospek aset kripto tersebut.
Sementara itu, arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh respons pasar terhadap data inflasi AS, arus dana ETF, serta perkembangan kondisi makroekonomi dan geopolitik global.
Baca Juga
Tokocrypto Ungkap Tren Baru Kripto, Tak Lagi Sekadar Trading
Untuk informasi, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) dijadwalkan merilis data CPI September pada Rabu (14/10/2026). Pasar memperkirakan inflasi utama mencapai sekitar 3,7% secara tahunan (year on year/yoy), sedangkan inflasi inti diproyeksikan sebesar 2,5%.
Pada Agustus, CPI AS naik 0,4% secara bulanan (month on month/mom) dan 3,4% secara tahunan. Kenaikan harga energi, termasuk bensin yang meningkat 3,9% secara bulanan, turut berkontribusi terhadap tekanan inflasi. Sementara itu, CPI inti tercatat tumbuh 2,4% secara tahunan.
Data terbaru tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed pada pertemuan 27–28 Oktober. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat, sedangkan inflasi yang lebih rendah dapat mendukung perkiraan bahwa suku bunga akan dipertahankan.
