Eagle High (BWPT) Kaji Dividen Interim, Kinerja 2026 Diproyeksi Tumbuh Double Digit
JAKARTA, investortrust.id – PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) tengah mengkaji rencana pembagian dividen interim untuk tahun buku 2026. Perseroan juga mempersiapkan pembagian dividen final pada 2027, dengan besaran dividen masih dalam tahap kajian.
Berdasarkan data laporan kinerja keuangan BWPT semester I-2026, laba periode berjalan mencapai Rp 215,07 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 185,14 miliar. Perseroan juga mengantongi kas dan setara kas akhir periode senilai Rp 199,75 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 153,53 miliar. Terbukanya peluang pembagian dividen ini terjadi setelah kuasi reorganisasi rampung beberapa waktu lalu.
Direktur BWPT Choong Kamloong mengatakan, keputusan pembagian dividen interim akan mempertimbangkan kinerja perseroan tahun ini. Menurutnya, kinerja BWPT hingga kuartal III-2026 masih berada di jalur yang sesuai target dengan pertumbuhan double digit sepanjang tahun.
Baca Juga
Eagle High Plantations (BWPT) Bersiap Alihkan 402,92 Juta Saham Hasil Buyback
“Tahun ini sedang kaji dividen interim dan final tahun 2027 untuk tahun buku 2026, kita masih kaji nilai dividen. Kita lihat performance sampai tahun ini, masih on track kuartal III, pertumbuhan double digit growth tahun ini,” kata Choong saat public expose secara online di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Ia menjelaskan, rencana pembagian dividen tersebut masih harus mendapatkan persetujuan dari jajaran direksi dan komisaris. Pemegang saham yang juga duduk di jajaran komisaris perlu memberikan persetujuan atas pembagian dividen interim tersebut.
Terkait prospek kinerja keuangan, dia mengatakan , BWPT menghadapi kenaikan biaya, terutama akibat meningkatnya biaya pupuk. Meski demikian, kenaikan biaya tersebut dinilai dapat diimbangi dengan kenaikan harga jual dan upaya efisiensi. “Kita memang mengalami kenaikan biaya akibat pupuk, tapi sejalan dengan kenaikan harga jual dan berjalannya efisiensi, pertumbuhan kinerja keuangan tetap berlanjut,” ujar Choong.
Baca Juga
Laba Eagle High (BWPT) Naik 16% pada Semester I-2026, Ini Penopangnya
Dalam strategi penciptaan nilai dan ketangguhan operasional, BWPT mengandalkan pertumbuhan organik, ekspansi kapasitas, serta efisiensi modal untuk menciptakan tingkat pengembalian yang berkelanjutan bagi pemegang saham. Di sektor hulu, perseroan melakukan optimalisasi kebun melalui tanam baru, pemberdayaan petani mandiri, dan replanting terencana.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional, menjaga stabilitas pasokan Tandan Buah Segar (TBS), serta meningkatkan yield dalam jangka panjang. BWPT menargetkan peningkatan volume CPO dan Palm Kernel (PK) yang diproduksi dan dikelola hingga mencapai sekitar 500.000 metrik ton (MT) per tahun. Perseroan juga terus meningkatkan yield, tingkat ekstraksi atau OER/KER, serta utilisasi aset guna memperkuat earning power.
KCP Jadi Strategi Ekspansi
Saat ini, BWPT memperkuat bisnis midstream melalui pembangunan Kernel Crushing Plant (KCP) di area Grup EHP, Kalimantan Tengah. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 200 ton per hari. KCP akan mengolah inti sawit menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi sekaligus memperkuat kapabilitas midstream perseroan.
KCP tersebut juga diintegrasikan dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas berkapasitas 1,5 MW. Fasilitas tersebut memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi terbarukan untuk mendukung pasokan listrik operasional pabrik KCP. Investasi KCP mencapai sekitar Rp 100 miliar.
Baca Juga
Eagle High (BWPT) Resmi Masuk Indeks ESG-KEHATI, Bukti Komitmen Keberlanjutan
Perseroan juga masih mengkaji pembangunan KCP baru setelah KCP Kalimantan Tengah selesai. Ke depan, BWPT ingin setiap pabrik memiliki fasilitas biogas, tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga menyediakan listrik untuk karyawan, perumahan, dan pabrik. “Pemanfaatan biogas juga membuka peluang carbon trading sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular,” tulisnya.
Guna mendukung operasional, BWPT mengalokasikan belanja modal atau capex sekitar 3-5% dari pendapatan setiap tahun atau sekitar Rp300 miliar. Fokus capex mencakup peremajaan alat berat, peremajaan pabrik kelapa sawit (PKS), serta infrastruktur untuk memastikan kegiatan operasional tetap efisien.
Antisipasi El Nino
Sementara itu, Direktur BWPT Andrewa Haryono mengatakan, perseroan telah melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak El Nino. Langkah tersebut dilakukan melalui early detection dengan teknologi satelit, pemantauan menggunakan drone dan menara api, serta patroli. Perseroan juga telah melengkapi peralatan pemadam kebakaran dan memastikan ketersediaan tenaga di lapangan.
Menurut Andrewa, dampak El Nino belum terlihat terhadap kinerja tahun ini, tetapi dampaknya berpotensi terlihat pada tahun depan. “Dampak El Nino memang real, tapi kami sudah mengantisipasi,” katanya.
Baca Juga
Indonesia Buka Kerja Sama dengan Malaysia Atasi Karhutla Lintas Batas
Guna menjaga produksi selama kondisi alam ini, BWPT juga terus memastikan utilisasi tetap tinggi dengan menjaga konsistensi pasokan buah. Perseroan mendapatkan pasokan TBS melalui kebun sendiri, new planting, plasma, dan pembelian dari kebun masyarakat.
Ke depan, BWPT tidak hanya mengandalkan bisnis inti perkebunan, tetapi juga mengembangkan sejumlah bisnis tambahan, seperti pembangunan KCP dan perdagangan CPO. BWPT juga fokus pada pengembangan teknologi, khususnya elektrifikasi yang berkaitan dengan ekonomi sirkular. Perseroan berupaya memonetisasi penerapan ekonomi sirkular tersebut sebagai sumber pertumbuhan tambahan, seperti carbon trading melalui biogas plant.
