BRI (BBRI) Kembali Jadi Primadona, Saham Naik 3,86% dan Target Rp 4.010
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil torehkan penguatan sebanyak 3,86% menjadi Rp 3.230 sepanjang pekan ini. Kenaikan harga BBRI mengalahkan tiga saham bank KBMI IV lainnya. Pemodal asing juga terpantau mencatatkan pembelian bersih (net buy) BBRI senilai Rp 745,32 miliar sepanjang pekan ini.
Berdasarkan data BEI, kenaikan harga saham BBRI melampaui penguatan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencapai 3,23%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,38%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 1,93%. Sedangkan kenaikan harga saham BBRI pada penutupan perdagangan, Jumat (21/8/2026), naik 2,87% menjadi Rp 3.230.
Baca Juga
Lalu, apakah penguatan harga saham BBRI bakal berlanjut? Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi dalam riset terbarunya menyebutkan peluang penguatan harga saham BBRI tetap terbuka. Saham BBRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.010 per saham.
Target harga tersebut mempertimbangkan prospek kinerja keuangan ke depan. KB Valbury Sekuritas optimistis BBRI dapat membukukan laba bersih sebesar Rp 59,43 triliun pada 2026 atau tumbuh sekitar 4,9% dari tahun sebelumnya. Laba bersih kemudian diperkirakan meningkat menjadi Rp63,43 triliun pada 2027 dan Rp68,54 triliun pada 2028. Begitu juga dengan pendapatan bunga bersih diproyeksikan naik menjadi Rp 159,31 triliun pada 2026 dari Rp 150,50 triliun pada 2025.
Sementara itu, JPMorgan Sekuritas sebelumnya telah merevisi naik rekomendasi saham BBRI menjadi overweight dan menaikkan target harga untuk periode 12 bulan hingga Juni 2027 menjadi Rp 3.400. JPMorgan menilai peningkatan prospek saham BBRI didukung oleh meredanya risiko kualitas aset pada portofolio kredit mikro.
Baca Juga
Kondisi tersebut turut ditopang subsidi bunga yang didanai pemerintah serta stabilnya jaring pengaman energi di wilayah pedesaan. Bagi investor global di pasar negara berkembang, BBRI dinilai menjadi salah satu indikator utama kondisi likuiditas konsumen dan pertumbuhan usaha mikro di Indonesia.
JP Morgan menyebutkan bahwa kebijakan pemerintah untuk menanggung 10% beban suku bunga pada pinjaman ultra-mikro dinilai dapat memberikan perlindungan terhadap margin bunga bersih BBRI sekaligus menekan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di masyarakat pedesaan.
Dari sisi valuasi, saham BBRI diperdagangkan pada sekitar 1,4 kali forward book value dan 7,5 kali forward earnings. BBRI juga mencatatkan return on equity (ROE) 17% dan estimasi dividend yield sebesar 11,5%. Valuasi tersebut dinilai memberikan diskon agresif dibandingkan sejumlah bank domestik lainnya. Percepatan penyaluran anggaran negara serta kembalinya likuiditas kas pemerintah pada semester II-2026 diperkirakan dapat menjadi katalis bagi re-rating valuasi saham BBRI dalam jangka pendek.

