Menuju Produsen Nikel Terbesar RI, Begini Target Arus Kas dan Harga Saham Merdeka Battery (MBMA)
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Merdeka Battery Materials (MBMA) layak dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga direvisi naik dari Rp 680 menjadi Rp 1.000 per saham. Peningkatan target harga ini ditopang kuat oleh segmen penambangan nikel yang menyumbang sekitar 50% dan segmen RKEF sebesar 25% dari total valuasi perusahaan.
Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan mengatakan, rampungnya investasi besar-besaran MBMA dan transisi perusahaan menuju fase panen (harvest phase) menjadi sentimen utama revisi naik target harga saham MBMA. Selama empat tahun terakhir, perusahaan telah menginvestasikan modal sekitar US$ 3 miliar untuk membangun salah satu platform nikel terintegrasi terbesar di Indonesia, yang mencakup penambangan bijih nikel, NPI berbasis RKEF, konversi matte, dan MHP berbasis HPAL.
Baca Juga
Merdeka Battery Materials (MBMA) Bidik Pertumbuhan Produksi hingga 140%
“Dengan infrastruktur yang sudah terbangun dan beroperasi, peningkatan produksi menuju kapasitas penuh diproyeksikan akan mendorong kenaikan yang tajam pada pendapatan, laba bersih, dan Arus Kas Bebas (FCF),” tulisnya.
Andreas menyebutkam bahwa peningkatan operasional MBMA diperkirakan menciptakan lonjakan kinerja keuangan yang tajam dalam dua tahun ke depan. Pendapatan MBMA diproyeksikan meroket hingga US$3,3 miliar tahun 2027, yang mencerminkan Tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 51% selama periode 2025-2027.
Lompatan pendapatan tersebut akan berimbas terhadap peningkatan pesat estimasi laba bersih perusahaan dengan target menyentuh angka US$ 306 juta pada 2027, mengimplikasikan CAGR yang sangat masif yakni sebesar 322% pada kurun waktu 2025-2027.
Sedangkan dari sisi operasional, produksi bijih nikel MBMA diproyeksikan mencapai sekitar 60 juta ton pada tahun 2028. Hal ini berpotensi menjadikan MBMA sebagai produsen nikel perusahaan publik terbesar di Indonesia. Volume produksi yang menembus 35 juta ton saja dinilai dapat menghasilkan FCF tahunan lebih dari US$ 500 juta pada kondisi operasi normal.
Tak hanya itu, apabila fasilitas AIM sudah beroperasi maksimal, akan ada tambahan FCF sebesar US$ 1 miliar per tahun pada 2028, seiring dengan tingkat utilisasi rantai pasok terintegrasi yang mendekati kapasitas penuh.
Prospek Harga Nikel
Momentum peningkatan operasional MBMA ini dinilai sangat tepat karena terjadi bersamaan dengan fase awal siklus nikel yang baru. Harga nikel saat ini berada di dekat titik terendah (trough), sehingga risiko penurunan harga lebih lanjut semakin terbatas.
Baca Juga
Anak Usaha HOPE Raih Kontrak Nikel US$14 Juta, Jadi Katalis Kinerja 2026
Saat ini, pasar masih kurang mengapresiasi potensi pendapatan dan FCF MBMA ketika perusahaan mencapai produksi yang stabil, bahkan dengan asumsi pemulihan harga nikel yang hanya moderat. Seluruh proyeksi fantastis di atas belum memasukkan fasilitas SLNC yang saat ini masih dalam konstruksi maupun proyek-proyek masa depan lainnya. Hal ini membuka peluang keuntungan (upside) lebih lanjut jika MBMA menyalurkan pertumbuhan FCF-nya untuk ekspansi tambahan dengan imbal hasil tinggi.
Meski MBMA menawarkan salah satu profil pertumbuhan FCF terkuat di sektor nikel Indonesia berkat penurunan intensitas belanja modal (capex) dan perbaikan utilisasi, investor tetap perlu mencermati beberapa risiko utama, seperti potensi pelemahan harga nikel, proses peningkatan kapasitas (ramp-up) yang lebih lambat dari perkiraan, serta keterlambatan pada penyelesaian proyek-proyek hilir.

