Usai Cetak Kinerja Cemerlang, Target Harga Saham Timah (TINS) Direvisi Naik ke Level Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Proyeksi kinerja keuangan dan target harga saham PT Timah Tbk (TINS) direvisi naik, seiring dengan lompatan kinerja keuangan semester I-2026 setelah pemulihan kinerja operasional dan harga jual rata-rata (ASP) timah yang tinggi.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham TINS dari Rp 4.500 menjadi Rp 4.800 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Adapun proyeksi laba bersih tahun ini direvisi naik dari semula Rp 3,36 triliun menjadi Rp 4,51 triliun. Sebaliknya proyeksi pendapatan direvisi turun dari Rp 24,15 triliun menjadi Rp 22,82 triliun.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Taufan Fahdillah dan Andhika Audrey mengatakan, revisi baik tersebut mencerminkan kenaikan 34,1% dibandingkan proyeksi sebelumnya. Kenaikan proyeksi laba terutama didorong oleh harga timah London Metal Exchange (LME) yang lebih kuat dengan asumsi mencapai US$ 53.000 per ton. Selain itu, margin kas yang tetap kuat serta penyerapan biaya yang lebih baik setelah pemulihan operasional pada semester I-2026 turut menopang peningkatan profitabilitas.
Baca Juga
Tata Kelola Timah Diperkuat, Laba PT Timah (TINS) Melonjak 805%
“Dalam revisi terbaru, asumsi produksi TINS untuk tahun ini diturunkan menjadi 23,7 ribu ton atau turun 21% dari perkiraan sebelumnya. Begitu juga dengan asumsi penjualan direvisi menjadi 22,5 ribu ton atau lebih rendah 10% setelah mempertimbangkan normalisasi pengiriman. Meskipun asumsi produksi dan penjualan dibuat lebih konservatif, peningkatan profitabilitas membuat margin EBITDA TINS diproyeksikan mencapai 29,8%,” tulis riset tersebut.
Terkait kinerja keuangan TINS sepanjang semester I-2026, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, pendapatan mencapai Rp 10,4 triliun atau melonjak 146,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Laba bersih perseroan meroket 804,7% menjadi Rp 2,7 triliun. “Capaian tersebut setara dengan 43,1% dari proyeksi pendapatan tahun ini serta mencapai 80,7% dari proyeksi laba kami dan 92,6% dari prediksi consensus analis,” tulisnya.
Kinerja tersebut didorong pemulihan operasional pada semester I-2026. Produksi bijih timah mencapai 12,2 ribu ton, meningkat 74,8% yoy yang mendorong produksi timah olahan sebesar 10,9 ribu ton atau tumbuh 58,2% yoy. Penjualan timah juga meningkat 85,1% yoy menjadi 11 ribu ton. Penguatan harga jual turut menopang kinerja TINS. ASP tercatat sebesar US$ 49.800 per ton, meningkat 51,7% yoy.
Baca Juga
Prabowo Minta Kapolri dan Panglima TNI Usut 1.000 Tambang Timah Ilegal di Babel
BRI Danareksa Sekuritas menambahkan untuk 2026, cash cost TINS diproyeksikan meningkat menjadi US$ 24.700 per ton. Dengan asumsi harga jual timah mencapai US$ 53.000 per ton, TINS diperkirakan mampu untuk membukukan cash margin sekitar US$ 28.300 per ton. “Seiring revisi proyeksi kinerja, rekomendasi saham TINS dipertahankan Buy dengan target harga yang dinaikkan menjadi Rp 4.800 per saham,” terangnya.
Target tersebut didasarkan pada valuasi 8 kali price to earnings ratio (P/E) tahun 2026 atau sekitar 1 standar deviasi di atas rata-rata P/E TINS selama tiga tahun. Target harga ini tidak memasukkan rencana revisi royalti ke dalam proyeksi dasar. Hal tersebut sejalan dengan indikasi manajemen bahwa kenaikan royalti masih ditunda dan diperkirakan belum diterapkan untuk komoditas timah pada 2026.

