"Bear Market" Jadi Momentum, MDI Ventures Tetap Incar Startup Web3 Blockchain. Ini Syaratnya....
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — MDI Ventures melihat prospek bisnis Web3 dan blockchain di Indonesia masih sangat besar, meski jumlah modal ventura lokal yang secara khusus fokus pada sektor tersebut saat ini masih terbatas.
Perusahaan modal ventura tahap awal milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) itu mengungkapkan telah mempelajari industri Web3 dan kripto di Indonesia selama sekitar dua hingga tiga tahun belakangan ini. Dari proses tersebut, perusahaan telah melakukan dua investasi, yakni pada proyek stablecoin IDRX pada tahun lalu dan salah satu exchange kripto.
Perusahaan rintisan (startup) kripto Indonesia, IDRX, mengantongi pendanaan tahap awal (pre-seed) senilai US$ 300 ribu atau setara dengan Rp 4,8 miliar. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh eMerge by MDI Ventures.
“Kita berpikir ini potensialnya sangat besar Web3 di Indonesia. Makanya kita lagi coba pelajari market-nya seperti apa," ujar VP of Strategy & Sustainability at MDI Ventures Alvin Evander di sela-sela gelaran Indonesia Blockchain Week Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Kamis (13/8/2026).
Terkait kondisi pasar kripto yang saat ini sedang berada dalam siklus bear market, menurutnya kondisi ini justru dapat menjadi momentum bagi pengembang untuk membangun proyek secara lebih fundamental. Ketika perhatian pasar tidak terlalu tersedot oleh pergerakan harga aset kripto, pengembang dapat lebih fokus membangun produk dan use case.
“Kalau crypto down itu siklus market. Ada bull and bear market. Tapi mungkin itu biasanya best time to build. Jadi mulai bikin project-nya justru sekarang,” katanya.
Baca Juga
MUFG Uji Blockchain untuk Penyelesaian Repo Obligasi Pemerintah Jepang
MDI Ventures pun masih membuka peluang investasi pada perusahaan Web3 dan blockchain. Namun, ia enggan membocorkan target nilai maupun jumlah investasi khusus untuk sektor tersebut.
Untuk calon perusahaan yang menjadi target investasi, MDI Ventures tutur Alvin mengutamakan startup yang telah berada pada tahap cukup matang. Salah satu indikatornya adalah telah memiliki klien ternama, terutama dari segmen institusi dan korporasi, serta mempunyai sumber pendapatan yang jelas.
“Pastinya yang sudah cukup mature. Sudah punya klien yang ternama. Preferensi kita sudah ada, kita harap ini punya klien, institution, enterprise client. Sudah punya revenue yang cukup jelas,” ujarnya.
Selain pendapatan yang jelas, MDI Ventures, sambungnya juga mempertimbangkan perusahaan yang memiliki jalur menuju profitabilitas meskipun belum mencatatkan keuntungan.
“Belum (harus profitable). Tapi setidaknya sudah ada clear path to profitability. Dan juga produk dan use case-nya cukup strong, di bagian enterprise dan institution,” kata Alvin.
Baca Juga
IDRX Dorong Pemanfaatan Stablecoin Rupiah Perkuat Ekonomi Kreatif Digital
Dalam mencari peluang investasi, MDI Ventures tidak membatasi fokus hanya pada subsektor tertentu seperti NFT, blockchain, atau token. Perusahaan lebih melihat kekuatan produk dan penerapannya di dunia bisnis.
Sejumlah proyek yang ditemui MDI Ventures mencakup tokenisasi, cross-border settlement, hingga pembiayaan kekayaan intelektual (IP financing) bagi kreator.
“Kalau punya use case yang strong dengan enterprise, dengan corporate itu baru kita tertarik,” ujar Alvin.
Lebih lanjut, Alvin menilai prospek Web3 dan blockchain ke depan masih terbuka. Namun, keputusan investasi akan lebih ditentukan oleh kematangan perusahaan, kekuatan produk, serta kemampuan teknologi tersebut menyelesaikan kebutuhan nyata di sektor institusi dan korporasi.

