BRMS Bertahan di MSCI Global Standard, Saham Diproyeksi Menuju Level Ini?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) masih memiliki prospek pertumbuhan positif, ditopang potensi pemulihan produksi emas, ekspansi kapasitas pengolahan, serta harga emas yang masih berada pada level tinggi.
Prospek tersebut sejalan dengan berhasilnya saham BRMS tetap bertengger dalam daftar MSCI Standard Global Indexes bersama dengan 8 saham lainnya dari Indonesia.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, merekomendasikan Add saham BRMS dengan target harga Rp 725 per saham. “BRMS lebih cocok dikategorikan sebagai growth/commodity play, sehingga volatilitasnya jauh lebih tinggi,” kata Nafan saat dihubungi Investortrust.id, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga
Cuma 9 Saham Indonesia Bertahan di MSCI Global Standard, Ini Daftarnya
Menurut dia, katalis utama BRMS berasal dari kenaikan produksi emas, ekspansi kapasitas pengolahan, serta harga emas yang masih berada pada level tinggi. Jika peningkatan produksi dapat terealisasi sesuai ekspektasi, operating leverage terhadap laba perseroan dinilai akan cukup besar.
Di sisi lain, riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat pendapatan BRMS pada semester I-2026 sebesar US$ 95,8 juta, turun 21% secara tahunan (year-on-year/yoy). Laba bersih juga anjlok 44% yoy menjadi US$12,9 juta. Realisasi tersebut baru mencapai 12,1% dari proyeksi BRI Danareksa Sekuritas untuk tahun buku 2026 dan 13,2% dari konsensus.
Produksi Emas BRMS
Tekanan kinerja terutama terjadi pada kuartal II-2026. BRMS membukukan rugi bersih US$4,6 juta, berbalik dari laba US$17,5 juta pada kuartal I-2026 dan US$8,5 juta pada kuartal II-2025.
Pendapatan kuartal II-2026 juga turun 54% yoy menjadi US$26,3 juta. Penurunan tersebut dipengaruhi produksi emas yang merosot menjadi 6,3 koz atau turun 57,4% secara kuartalan. Aktivitas penambangan terdampak proses pushback di River Reef yang menekan aktivitas produksi sekaligus menurunkan kadar bijih (head grade) menjadi 0,90 gram per ton (g/t), dibandingkan 1,42 g/t pada kuartal sebelumnya.
Baca Juga
Target Harga Saham Bumi Minerals (BRMS) Rp 750, KB Valbury Proyeksikan Laba Pulih Mulai 2027
Penjualan emas juga melambat akibat kelebihan pasokan sementara di pasar domestik. Kondisi tersebut turut menekan harga jual rata-rata emas (average selling price/ASP) menjadi US$4.138 per ons, turun 8,3% secara kuartalan.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas menilai BRMS telah melewati titik terendah operasional setelah proses pushback River Reef rampung pada Juli 2026. Dengan demikian, aktivitas penambangan diperkirakan kembali meningkat dan kadar bijih berangsur normal pada semester II-2026.
Berpotensi Naik
Prospek penjualan juga dinilai membaik setelah PT Citra Palu Minerals (CPM), anak usaha BRMS, mengamankan perjanjian gold offtake dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Berdasarkan perjanjian tersebut, ANTM akan membeli hingga 120 kilogram emas per bulan hingga Juni 2028. Perjanjian tersebut diperkirakan dapat mengamankan sekitar 60%-80% dari produksi bulanan normal CPM, sehingga memberikan visibilitas penjualan yang lebih baik.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas menilai target produksi emas BRMS untuk 2026 masih cukup menantang. Dengan produksi emas pada semester I-2026 yang baru mencapai 21,1 koz, target produksi yang telah direvisi menjadi 70-75 koz dinilai sulit dicapai.
Baca Juga
Meski Laba Turun, Analis Yakin Saham Bumi Minerals (BRMS) Berpeluang Naik ke Rp 1.100
Untuk jangka menengah-panjang, prospek BRMS tetap ditopang ekspansi kapasitas carbon-in-leach (CIL) sebesar 2.000 ton per hari serta pengembangan tambang bawah tanah dengan kadar emas 3,5-4,9 g/t yang ditargetkan mulai berkontribusi pada semester II-2027.
Sejalan dengan prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli BRMS, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp700 dari sebelumnya Rp 1.100 per saham.
Proyeksi produksi emas 2026-2028 masing-masing diturunkan menjadi 60,9 koz (kilo ounces), 81,6 koz, dan 158,2 koz. Sementara itu, asumsi ASP emas ditetapkan sebesar US$4.300, US$4.300, dan US$4.400 per ons.

