Saham ADRO, AADI, dan EMAS Masih Masuk Daftar MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) masih bertahan dalam keluarga indeks MSCI setelah Morgan Stanley Capital International melakukan MSCI August 2026 Index Review. Ketiga saham tersebut tetap tercatat dalam MSCI Indonesia Small Cap Index, di tengah perombakan cukup besar terhadap konstituen saham Indonesia.
Berdasarkan hasil review MSCI yang diumumkan pada Rabu (12/08/2026) waktu setempat atau Kamis dini hari, 13 Agustus 2026 waktu Indonesia, MSCI melakukan perubahan terhadap kelompok Global Standard maupun Small Cap Indonesia. Perubahan hasil review tersebut akan diterapkan pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 dan berlaku efektif 1 September 2026. Jadwal resmi MSCI sebelumnya memang menetapkan August 2026 Index Review diumumkan 12 Agustus dan efektif 1 September 2026.
Dalam kelompok MSCI Indonesia Small Cap Index, ADRO, AADI, dan EMAS tetap menjadi konstituen. Keberadaan ADRO dan AADI sebenarnya sudah terlihat dalam factsheet resmi MSCI per 30 Juni 2026. Saat itu ADRO memiliki bobot sekitar 5,45% dan menjadi salah satu konstituen terbesar MSCI Indonesia Small Cap, sedangkan AADI memiliki bobot sekitar 3,52%.
Bertahannya ketiga saham tersebut menjadi perhatian karenai Agustus kali ini justru diwarnai pengurangan cukup besar jumlah saham Indonesia. Berdasarkan laporan Investortrust.id yang dipublikasikan 13 Agustus 2026, MSCI mengeluarkan sembilan saham dari MSCI Small Cap Indexes, yakni ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI. Sebaliknya, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) masuk ke kelompok Small Cap setelah turun kelas dari MSCI Global Standard Indexes.
Baca Juga
Net Buy Berlanjut Rp 249,17 MIliar, Asing Borong VKTR hingga ADRO
Dengan perubahan tersebut, menurut Investortrust.id, terdapat 36 saham Indonesia yang masih berada dalam MSCI Small Cap Indexes. Selain ADRO, AADI, dan EMAS, sejumlah saham yang tetap berada dalam kelompok tersebut antara lain INDF, ENRG, BUMI, AMRT, PGAS, PTRO, dan MAPI.
Perubahan lebih mencolok terjadi pada kelompok MSCI Global Standard Indexes. MSCI mengeluarkan CPIN dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), sementara tidak ada satu pun saham Indonesia yang ditambahkan dalam review Agustus. Akibatnya, jumlah saham Indonesia yang bertahan di Global Standard menyusut menjadi hanya sembilan saham.
Kesembilan saham tersebut adalah BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII, BRPT, BBNI, BRMS, dan UNTR. CPIN masih berada dalam keluarga MSCI karena berpindah ke Small Cap, sedangkan GOTO keluar dari MSCI Indonesia Index.
Bagi ADRO, AADI, dan EMAS, bertahannya status sebagai konstituen MSCI Small Cap memiliki arti penting. Indeks MSCI menjadi salah satu referensi investor institusi global, terutama manajer investasi yang menggunakan indeks tersebut sebagai benchmark. Karena itu, keberadaan suatu saham dalam indeks dapat membantu menjaga eksposur saham tersebut terhadap dana institusi internasional, meskipun besarnya arus dana tetap bergantung pada bobot masing-masing saham dan strategi investasi pengelola dana.
Baca Juga
Saham Batu Bara Masih Layak Dikoleksi? Intip Target Harga AADI dan ITMG
Namun, hasil review Agustus sekaligus menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia belum sepenuhnya keluar dari sorotan MSCI. Indonesia memang tetap berstatus Emerging Market, tetapi MSCI masih menaruh perhatian terhadap aspek investability, free float, transparansi kepemilikan saham, serta kemampuan investor global mereplikasi indeks secara efektif. Evaluasi berikutnya menjadi penting karena MSCI November 2026 Index Review dijadwalkan diumumkan pada 11 November 2026 dan berlaku efektif 1 Desember 2026.
Dengan demikian, di tengah keluarnya CPIN dan GOTO dari Global Standard serta sembilan saham dari small cap, ADRO, AADI, dan EMAS setidaknya masih mampu mempertahankan tempatnya dalam radar MSCI. Bagi ketiga emiten tersebut, keberadaan di MSCI Indonesia Small Cap bukan hanya soal label indeks, tetapi juga berarti sahamnya masih berada dalam cakupan investasi yang dipantau investor institusi global.

