Pendiri Nansen Optimistis Bitcoin Tak Turun Lagi ke US$ 60.000, Apa Alasannya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pendiri sekaligus CEO Nansen Alex Svanevik optimistic harga Bitcoin tidak akan kembali menyentuh level US$ 60.000. Menurutnya, level tersebut berpotensi menjadi titik terendah Bitcoin dalam siklus pasar saat ini.
“Pandangan pribadi saya adalah saya tidak berpikir Bitcoin akan kembali di bawah US$ 60.000. Saya pikir itu sudah menjadi masa lalu,” ujarnya, dilansir dari CoinTelegraph, Senin (10/8/2026).
Svanevik menilai Bitcoin memiliki posisi yang semakin kuat sebagai aset lindung nilai terhadap ekspansi jumlah uang yang bank sentral. Ia juga melihat siklus ekspansi moneter global masih akan terus berlangsung sehingga memberikan dukungan terhadap prospek Bitcoin dalam jangka panjang.
Baca Juga
Permintaan Bitcoin Menguat, ETF AS Kembali Serap Dana US$ 865 Juta
Optimisme tersebut muncul setelah Bitcoin sebelumnya sempat mengalami tekanan dan bergerak di sekitar level US$ 60.000. Kondisi itu memunculkan perdebatan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah Bitcoin telah mencapai titik terendah dalam siklus penurunan saat ini.
Berbeda dengan Svanevik, investor kripto veteran Michael Terpin masih memperkirakan Bitcoin akan mengalami penurunan lebih dalam sebelum memasuki reli berikutnya. Ia memperkirakan Bitcoin dapat turun sekitar 66% dari level tertinggi sepanjang masa pada Oktober 2025 yang berada di kisaran US$ 126.100.
Dengan proyeksi tersebut, Terpin memperkirakan harga Bitcoin dapat turun ke kisaran US$ 40.000 sebelum memasuki fase kenaikan.
Baca Juga
Bitcoin Naik 7,5% Sepanjang Juli, Pasar Kini Waspadai Volatilitas Agustus
Kripto Mulai Masuk Era Real World Asset
Di lain sisi, Svanevik menilai industri kripto saat ini mulai meninggalkan citra sebagai industri yang hanya berorientasi pada keuntungan cepat. Blockchain mulai memasuki fase baru dengan semakin banyaknya aset dunia nyata atau real world asset (RWA) yang masuk ke ekosistem blockchain.
Perkembangan tersebut antara lain terlihat dari tokenisasi saham serta perdagangan indeks seperti S&P 500 melalui jaringan blockchain.
“Crypto assets telah seperti era ‘dunia mainan’ dari blockchain. Sekarang kita memasuki era dunia nyata, ketika kita melihat saham yang ditokenisasi dan orang memperdagangkan indek seperti S&P 500,” kata Svanevik.
Ia menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa blockchain tidak lagi hanya digunakan untuk aset kripto, tapi juga mulai menjadi infrastruktur bagi berbagai jenis aset nonkripto.
Terlepas dari itu, jika melirik data CoinMarketCap pada Senin (10/8/2026), harga Bitcoin berada pada level US$ 65.112,70 pada pukul 13.29 WIB atau naik 0,5% dalam 24 jam terakhir

