BEI Beberkan Penyebab Dana Asing Masih Kabur, Net Sell Saham Tembus Rp 72,53 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap penyebab investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 72,53 triliun secara year to date (ytd) hingga Kamis (6/8/2026), meski fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat.
Senior Analyst Bursa Efek Indonesia (BEI) Fikrian Naufal H mengatakan, tekanan di pasar modal domestik merupakan akumulasi berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi persepsi investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Padahal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% dan kondisi fiskal dinilai masih terjaga. Namun, berbagai faktor eksternal dan domestik masih membebani arus modal asing ke pasar saham Indonesia.
Baca Juga
Top! Investor Asing Borong Saham Rp 1,23 Triliun, Ada BBRI hingga TINS
Dari sisi global, menurut Naufal, konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan Iran, serta dampaknya terhadap jalur perdagangan minyak dunia melalui Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi dan menjaga tekanan inflasi global.
Selain itu, inflasi di Amerika Serikat memang mulai melandai, tetapi masih berada di atas target bank sentral AS (The Fed) sebesar 2%. Kondisi tersebut membuka peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi lebih lama (higher for longer).
Hal itu tercermin dari dua indikator inflasi utama di Amerika Serikat, yaitu Consumer Price Index (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE). Inflasi CPI turun dari 4,1% menjadi 3,7%, sedangkan inflasi PCE melandai dari 3,4% menjadi 3%. Meski demikian, kedua indikator tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed.
Baca Juga
Prabowo Puji Kerja Bahlil, Harga BBM Subsidi Tak Naik meski Negara Lain Mulai Panik
"Nah, tapi angka ini turun, tapi masih jauh dari targetnya. Bapak-Ibu tahu nggak targetnya berapa? Targetnya 2% untuk angka inflasi. Ini sangat jauh sebenarnya," kata Naufal dalam acara Samuel Sekuritas Media Connect 2026 di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Ia menjelaskan, konflik geopolitik dan berbagai ketidakpastian pasar membuat tekanan inflasi masih membayangi, sehingga mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuannya.
"Jadi, karena inflasi ini terus terbayang, karena adanya konflik dan juga beberapa ketidakpastian di pasar, ini akan memaksa The Fed untuk mempertahankan dan bahkan ada kemungkinan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk lebih lama atau higher for longer," ujar Naufal.
Baca Juga
Prabowo Puji Kerja Bahlil, Harga BBM Subsidi Tak Naik meski Negara Lain Mulai Panik
Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (Treasury yield) menjadi lebih menarik dibandingkan aset di negara berkembang.
"Ketika adanya kenaikan suku bunga acuan, tentunya Treasury yield itu lebih menarik. Di Amerika Serikat levelnya di sekitar 4 sampai 5%, which is yang menjadikan terhadap outflow dari emerging market, salah satunya adalah Indonesia. Jadi, memang outflow yang sekarang dirasakan bisa dibilang dampaknya akumulatif, nggak cuma dengan isu-isu beberapa yang lain, tapi juga kumpulan dari semuanya," jelasnya.
Dari sisi domestik, Naufal mengatakan, investor asing juga masih mencermati sejumlah perkembangan, antara lain perubahan outlook peringkat kredit Indonesia, keberlanjutan kebijakan fiskal, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian hasil peninjauan indeks MSCI yang dinilai dapat memengaruhi arus modal asing ke pasar saham Indonesia.

