Dorong Pertumbuhan Jangka Panjang, Merdeka Battery (MBMA) Angkat Dua Direksi Baru
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengangkat dua direksi baru dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat eksekusi bisnis dan mendukung pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Dua direksi yang diangkat adalah James Nicholas dan Ashutosh Srivastava Fausimm. Efektif sejak ditutupnya RUPST, James Nicholas menjabat sebagai Direktur Keuangan, sementara Ashutosh Srivastava Fausimm menjabat sebagai Direktur Operasional.
Dalam RUPST yang sama, pemegang saham menyetujui pengunduran diri Anthony Kartono Tan dari jabatannya sebagai direktur. Presiden Direktur Merdeka Battery Materials Teddy Nuryanto Oetomo menyampaikan apresiasi atas kontribusi Anthony selama menjabat di perseroan.
Baca Juga
IHSG Anjlok Parah 3,22% di Sesi II, Saham Emiten Prajogo BREN dan TPIA Turun Parah
“Penguatan susunan direksi diharapkan dapat mendukung fokus MBMA pada disiplin keuangan, eksekusi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang, seiring pengembangan posisi perseroan dalam rantai nilai bahan baku baterai,” ujar Teddy, Rabu (24/6/2026).
Dengan keputusan tersebut, susunan Dewan Komisaris terdiri atas Presiden Komisaris Winato Kartono, Komisaris Michael W.P. Soeryadjaya, dan Komisaris Independen: Prof. Dr. Didi Achjari. Adapun dewa direksi terdiri atas Presiden Direktur Teddy Nuryanto Oetomo, Direktur Titien Supeno, Direktur James Nicholas, dan Direktur Ashutosh Srivastava Fausimm
Selain perubahan susunan manajemen, pemegang saham juga menyetujui laporan tahunan perseroan tahun buku 2025 serta sejumlah keputusan strategis untuk mendukung agenda pertumbuhan perusahaan.
Baca Juga
Ilham Habibie: Re-Industrialisasi dan Penguatan Insinyur Jadi Kunci Utama Menuju Indonesia Emas
Menurut Teddy, MBMA tetap mampu mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah pelemahan harga nikel global sepanjang 2025.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$1,43 miliar dengan EBITDA mencapai US$219 juta. Kinerja tersebut didukung oleh peningkatan volume produksi nikel, kontribusi yang lebih baik dari operasi hilir, serta disiplin biaya yang berkelanjutan di sepanjang rantai nilai.
“Kami berhasil mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah tekanan harga nikel global, didukung peningkatan volume produksi dan peningkatan margin di operasi hilir,” kata Teddy.
Baca Juga
MBMA Bakal Buyback Saham Rp 1,46 Triliun, Ini Jadwal Pelaksanaannya
Ia menambahkan, keputusan RUPST mendukung fase pertumbuhan berikutnya seiring peningkatan skala produksi, pendalaman integrasi, dan penguatan eksekusi di seluruh portofolio bisnis perseroan.
Tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral menjadi salah satu pendorong utama model bisnis terintegrasi MBMA dengan produksi mencapai 7 juta wet metric tonnes (wmt) bijih saprolit dan 14,7 juta wmt bijih limonit sepanjang 2025.
Di sisi hilir, perseroan mencatat produksi Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 73.871 ton, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sekitar 19.998 ton, serta Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sekitar 25.994 ton. “Kami akan terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang perseroan,” pungkas Teddy.
