Saham BBCA dan BBRI Longsor hingga Seret IHSG ke Zona Merah, Faktor Ini Jadi Pemicu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham-saham bank berkapitalisasi besar atau big banks KBMI IV mendadak longsor pada perdagangan Jumat, (29/5/2026). Kejatuhan tersebut seret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah setelah sempat menguat signifikan pada sesi pertama.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun tipis 2,81 poin atau 0,05% ke level 6.127. Pelemahan tersebut berbanding terbalik dengan penutupan sesi I, ketika IHSG sempat melonjak 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217.
Tekanan terhadap pasar saham menjelang penutupan dipicu kejatuhan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham BBCA anjlok Rp275 atau 4,60% ke level Rp 5.700, yang menjadi posisi terendah baru dalam lebih dari lima tahun terakhir. Tekanan juga terjadi pada saham BBRI yang turun 3,91% ke Rp2.950, BBNI melemah 3,65% ke Rp3.700, serta BMRI terkoreksi 1,21% ke Rp4.080.
Baca Juga
Net Sell Jumbo Rp 8,36 Triliun, Investor Asing Buang Saham BBCA, TPIA, dan AMMN
Tekanan tersebut juga disertai dengan aksi jual (net sell) saham big bang secara massif oleh pemodal asing, seperti BBCA Rp 1,95 triliun, BBRI mencapai Rp 738,04 miliar, dan BMRI mencapai Rp 389,80 miliar. Net sell juga melanda saham TPIA Rp 1,93 triliun dan AMMN mencapai Rp 1,61 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit mengatakan pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini sangat volatil. Pada sesi pre-opening, IHSG sempat berada di zona merah, kemudian bergerak menguat sepanjang perdagangan sebelum akhirnya ditutup terkoreksi tipis.
“Hal ini seperti yang kami sampaikan pada report technical pagi ini, di mana pergerakan IHSG masih cukup berat dan rawan terkoreksi,” ujar Didit kepada investortrust.id, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, saham-saham konglomerasi secara mayoritas masih mencatatkan penguatan, meski mendapat tekanan dari saham perbankan big caps. Namun secara teknikal, penguatan saham-saham konglomerasi tersebut dinilai masih berada dalam fase downtrend dan belum menunjukkan penguatan yang solid. “Untuk pekan depan, kami perkirakan IHSG masih rawan terkoreksi dengan support di level 6.071 dan resistance 6.161,” tambahnya.
Baca Juga
Jasuindo Tiga Perkasa (JTPE) Tebar Dividen Rp210,6 Miliar, Rasio Segini
Sementara itu, Investment Specialist KISI Sekuritas Azharys Hardian menilai koreksi saham-saham bank besar hari ini dipicu rebalancing indeks MSCI. Investor melakukan penyesuaian bobot indeks di mana sejumlah bank besar, seperti BBCA, BBRI, dan BBNI mengalami pengurangan bobot. Sedangkan BMRI justru mencatatkan kenaikan bobot.
“Hal ini memicu adanya outflow dana asing yang cukup masif dari saham-saham yang bobotnya dikurangi tersebut, dengan estimasi nilai mencapai sekitar US$160 juta,” jelas Azharys.
Untuk perdagangan pekan depan, Azharys menilai IHSG masih berpotensi bergerak resilien di sekitar area demand. Saat ini, indeks tengah menguji area pertahanan krusial dengan level support kuat yang perlu dicermati berada di kisaran 6.050.

