Reliance Sekuritas Jagokan 4 Saham Hari Ini, Ada BRPT hingga SMGR
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (19/5/2026), diproyeksikan rebound dengan rentang pergerakan 6.538-6.671. Adapun saham pilihan hari ini adalah BRPT, UNVR, SCMA, dan SMGR.
Reliance Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa secara teknikal, candle terakhir IHSG berbentuk hammer (reversal pattern), masih di bawah MA5 dan MA20, namun indikator Stochastic golden cross pada area oversold. “Dengan demikian, kami memperkirakan IHSG akan mengalami penguatan dengan saham pilihan BRPT, UNVR, SCMA, dan SMGR,” tulisnya.
Baca Juga
Daftar Emiten Cum Dividen 19-25 Mei 2026, TGKA Tebar Dividen Terbesar
Laju indeks juga akan dipengaruhi pergerakan indeks utama Wall Street yang mayoritas mlemah. Sentimen negatif datang dari aksi jual obligasi global serta adanya kebuntuan yang berkepanjangan antara AS dan Iran. Adapun pagi ini, mayoritas pasar saham Asia melemah.
Adapun saham pilihan hari ini, Reliance Sekuritas merekomendasdikan beli saham BRPT dengan target harga Rp 2.440, UNVR dengan target harga Rp 2.040, SCMA dengan target harga Rp 284, dan SMGR dengan target harga Rp 2.310.
Kemarin, IHSG sempat melemah sebanyak 325 poin atau lebih dari 4,3%, meski akhirnya ditutup level 6,599. Pemodal asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham mencapai Rp 463,99 miliar. Net sell terbanyak melanda saham ANTM senilai Rp 315,03 miliar, BREN senilai Rp 152,53 miliar, AMMN mencapai Rp 149,08 miliar.
Baca Juga
Terdorong Kebangkitan Hulu Migas, Intip Prospek Kinerja dan Saham Elnusa (ELSA)
Tekanan terhadap indeks datang dari kejatuhan saham big cap, seperti TPIA, DSSA, AMMN, dan BREN. Penurunan juga dipicu pelemahan saham big bank, yaitu BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Secara sectoral, semua sektor saham mengalami penurunan yang dipimpin saham sektor material dasar 5,17% dan transportasi 6,20%. Penurunan juga melanda saham sektor industry 3,25%, sektor energi 2,37%, sektor property 2,22%, infrastruktur 2,98%, dan sektor teknologi 2,21%.
Penurunan indeks disebut dipicu atas sentiment negative yang datang bertubi-tubi, seperti pelemahan rupiah, sentimen negatif global, hingga pengumuman MSCI dan FTSE yang masih membekukan pasar saham Indonesia dan mengeluarkan sejumlah emiten dari konstituennya.

