BRMS Berpotensi Naik 36,6% ke Rp 1.100, Ini Pendorongnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berpotensi naik sekitar 36,6% ke level Rp 1.100 per saham dibanding harga sahamnya saat ini di Rp 805 per saham.
Dalam riset BRI Danareksa Sekuritas, rekomendasi beli (buy) untuk saham BRMS dipertahankan dengan target harga Rp 1.100 per saham, naik dari sebelumnya Rp 1.080.
BRI Danareksa menilai kinerja BRMS pada kuartal I-2026 masih sejalan dengan ekspektasi pasar meski produksi sempat tertekan akibat aktivitas pit pushback di tambang River Reef. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 17,5 juta atau tumbuh 21,3% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pendapatan BRMS tercatat mencapai US$ 69,5 juta atau naik 9,7% yoy. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan harga jual emas rata-rata (average selling price/ASP), meskipun volume penjualan mengalami penurunan.
Analis menyebut, pemulihan produksi diperkirakan mulai terjadi pada Juni 2026 setelah proses pit pushback selesai. Kondisi tersebut diharapkan membuka akses ke bijih berkadar emas lebih tinggi dan mendukung normalisasi produksi pada semester II-2026.
Baca Juga
Diserbu Rekomendasi Beli, Saham Bumi Minerals (BRMS) Dibidik Naik hingga Rp 1.330
“Manajemen memperkirakan pemulihan CPM dapat terjadi pada awal Juni 2026, didorong normalisasi kadar emas dan peningkatan kapasitas pabrik,” tulis riset tersebut.
Selain itu, BRMS juga tengah menjalankan peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas milik CPM dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari yang ditargetkan selesai pada Oktober 2026. Langkah ini diperkirakan dapat mendongkrak produksi emas hingga lebih dari 80 ribu ounce pada tahun 2026.
Prospek jangka menengah BRMS juga dinilai masih positif didukung pengembangan tambang bawah tanah yang ditargetkan mulai berkontribusi pada 2027. Proyek tersebut dinilai dapat menjadi pendorong pertumbuhan produksi dan monetisasi aset perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.
BRI Danareksa memperkirakan laba bersih BRMS dapat meningkat menjadi US$ 107 juta pada 2026, dibanding estimasi US$ 50 juta pada 2025. Sementara pendapatan diproyeksikan naik menjadi US$ 353 juta pada 2026 dari estimasi US$ 249 juta pada tahun sebelumnya.
Meski demikiam,analis mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, mulai dari keterlambatan proyek, hasil pengeboran yang lebih lemah, penurunan kadar emas, hingga potensi pelemahan harga emas global.

