Bagikan

Samuel Sekuritas Indonesia Sebut Target Realistis IHSG 2026 di 7.500

Poin Penting

Samuel Sekuritas merevisi target IHSG 2026 menjadi 7.500 akibat lemahnya nilai tukar Rupiah dan rendahnya pertumbuhan laba emiten.
Sektor perbankan menjadi penekan utama indeks karena penyempitan margin bunga (NIM) serta potensi peningkatan biaya pencadangan.
Skenario terburuk (bearish) diprediksi pada level 6.300, sementara skenario optimis (bullish) dapat mencapai level 8.000.

JAKARTA, Investortrust.id – PT Samuel Sekuritas Indonesia merevisi turun proyeksi pasar saham domestik, setelah mencermati kinerja emiten kuartal I-2026, serta tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian.

Dalam skenario dasar (base case), sekuritas milik PT Samuel Tumbuh Bersama tersebut mematok target realistis indeks harga saham gabungan (IHSG) pada level 7.500 tahun ini.

Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi mengatakan, revisi proyeksi dilakukan seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang diperkirakan masih memberi tekanan terhadap kinerja emiten.

Lately kami baru downgrade pascapengumuman kinerja kuartal I-2026. Earnings growth untuk full year 2026 dalam base scenario kami perkirakan hanya sekitar 2%,” ujar Prasetya di Menara Imperium, Rasuna Said, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga

Saham Big Bank Terbang, IHSG Akhirnya Ditutup Melesat 1,15%

Menurut dia, salah satu faktor utama penurunan proyeksi berasal dari sektor perbankan yang memiliki bobot besar terhadap pergerakan IHSG. Pelemahan harga saham bank sangat memengaruhi arah indeks secara keseluruhan.

Cut terbesar datang dari saham-saham bank karena bobotnya besar di IHSG. Jadi, kalau saham bank turun, pengaruhnya signifikan,” tegas dia.

Prasetya menjelaskan, tekanan pada sektor perbankan terutama berasal dari penyempitan margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Meski biaya dana atau cost of fund mulai turun sejak akhir tahun lalu, penurunan imbal hasil kredit (loan yield) lebih besar akibat ketatnya persaingan penyaluran kredit, terutama di segmen korporasi.

Selain itu, kata dia, kebijakan pemerintah yang mendorong bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menyalurkan kredit berbunga rendah melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) diperkirakan menekan margin perbankan.

Loan yield akan berat ke depan karena persaingan kredit korporasi tinggi, dan pemerintah juga mendorong bunga kredit yang lebih rendah untuk UMKM,” imbuh dia.

Samuel Sekuritas menilai pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi kualitas aset perbankan. Jika kualitas aset memburuk, bank diperkirakan harus meningkatkan pencadangan atau provisi, yang pada akhirnya menekan laba.

“Kalau kondisi seperti ini berlanjut, terutama rupiah terus melemah, ada potensi asset quality di-downgrade dan itu akan berpengaruh ke provisi,” sambungnya.

Dalam proyeksinya, Samuel Sekuritas menggunakan asumsi fair price to earnings ratio (P/E) sebesar 12,3 kali dengan estimasi earnings per share (EPS) 2026 di level 606,7. Dari asumsi tersebut, diperoleh target wajar IHSG di level 7.500.

Baca Juga

Wall Street Pesta Rekor Lagi, S&P 500 Tembus 7.300, Dow Melonjak Lebih 600 Poin

Fair P/E multiple kami perkirakan di 12,3 kali. Dengan EPS 2026 sebesar 606,7, kami dapat fair index target di 7.500,” jelas dia.

Sementara itu, dalam skenario bearish, menurut Prasetya Gunadi, IHSG diperkirakan dapat turun hingga level 6.300 apabila tekanan eksternal dan pelemahan fundamental berlanjut.

Sebaliknya, pada skenario bullish, IHSG berpotensi mencapai level 8.000 dengan asumsi pertumbuhan laba emiten mencapai 5% dan valuasi pasar membaik ke level P/E 12,9 kali.

Nah, kalau bull scenario, earnings growth masih bisa 5% dengan fair P/E sekitar 12,9 kali,” ujar Prasetya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024