Intip Rekomendasi dan Target Harga Saham ICBP, Potensi Cuan Jumbo
JAKARTA, investortrust.id – PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) diprediksi lanutkan pertumbuhan kinerja keuangan solid tahun ini. Hal ini didukung permintaan domestik yang stabil serta ekspansi bisnis internasional yang terus berlanjut. Peluang ini membuat prospek saham produsen mie instant ini menarik.
Phillip Sekuritas dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa pendapatan ICBP tahun buku 2026 diperkirakan tumbuh 4,1% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 78,5 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang segmen mi instan dengan peningkatan 4,8% yoy. Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp 9,8 triliun atau naik 6,4% yoy.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok, Negosiasi AS-Iran Jadi Penentu Arah Pasar
Kinerja segmen mi instan didukung stabilnya permintaan pasar domestik serta ekspansi internasional yang terus berjalan, khususnya di kawasan Timur Tengah, Asia, dan Afrika.
Meski volatilitas harga bahan baku, seperti crude palm oil (CPO) dan komoditas lainnya, masih menjadi tantangan, ICBP dinilai memiliki kemampuan untuk mengelola tekanan tersebut melalui efisiensi operasional dan strategi penyesuaian harga secara selektif.
Dengan peluang berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan, Analis Phillip Sekuritas Helen mempertahankan rekomendasi beli saham ICBP dengan target harga Rp 10.000 per saham. Dengan harga penutupan kemarin Rp 6.800, peluang cuan bisa mencapai 47%.
Baca Juga
Tunjangan Guru Kini Cair Tiap Bulan dan Langsung ke Rekening
Valuasi saham ICBP didasarkan pada metode discounted cash flow (DCF), dengan implikasi valuasi 10,37 kali price to earnings (P/E) FY26F dan 1,48 kali price to book value (P/BV) FY26F.
Target harga tersebut juga menggambarkan posisi ICBP sebagai pemimpin pasar di segmen mi instan, portofolio merek yang kuat dan terdiversifikasi di berbagai kategori produk, serta ekspansi bisnis luar negeri yang terus berkembang.
Namun demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, antara lain volatilitas harga bahan baku, pelemahan daya beli konsumen, dan fluktuasi nilai tukar mata uang.

