MSCI Dinilai Tetap Konstruktif ke RI, Namun Seleksi Saham Makin Ketat
JAKARTA, investortrust.id – Risiko reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dinilai telah mereda, seiring sikap konstruktif MSCI terhadap reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas domestik.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, berdasarkan pembaruan review market accessibility pada 20 April 2026, MSCI telah mengapresiasi peningkatan transparansi yang dilakukan oleh regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
“MSCI menyimpulkan bahwa risiko reclassification Indonesia ke frontier market secara taktis sudah hilang dan tidak akan terjadi,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga
Menanti Rebalancing MSCI Pekan Depan, Akankah Bobot Bank KBMI IV Dinaikkan?
Meski demikian, MSCI saat ini tengah mengkaji penggunaan sumber data baru untuk menentukan free float dan tingkat kelayakan investasi (investability) pasar. Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah penggunaan data kepemilikan saham di atas 1% untuk menyempurnakan estimasi free float.
Selain itu, MSCI akan menerapkan perlakuan global terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholder concentration (HSC). Dampaknya, sejumlah saham, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berpotensi dikeluarkan dari indeks MSCI.
Tak hanya itu, beberapa emiten lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), hingga PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) juga berisiko terdepak, apabila kapitalisasi pasar berbasis free float berada di bawah ambang batas sekitar US$1,9 miliar.
Baca Juga
Waspada 12 Mei, MSCI Berpotensi Keluarkan Saham RI, IHSG Terancam Ditekan Outflow Asing?
Di sisi lain, saham perbankan berkapitalisasi besar dinilai relatif aman dari tekanan tersebut. “Kalau saham bank aman, karena termasuk big caps,” kata Nafan.
Lebih lanjut, MSCI diperkirakan mempertahankan kebijakan interim, yakni membekukan kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan jumlah saham beredar (number of shares/NOS), serta menahan penambahan konstituen baru dan migrasi ke segmen indeks yang lebih tinggi.
Penurunan Bobot
Dengan kondisi tersebut, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets berpotensi turun menjadi sekitar 0,6% dari sebelumnya 0,7%.
Baca Juga
Chandra Asri (TPIA) Akhiri Force Majeure, Pasokan Bahan Baku Kembali Aman Meski Biaya Naik
Dari sisi pasar, Nafan menilai, tekanan terbesar telah terlewati dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai memasuki fase konsolidasi bullish, meskipun aksi jual investor asing masih berlangsung.
Ia memperkirakan tekanan jual saham oleh investor asing berpotensi berlanjut hingga rebalancing Agustus 2026, ketika penyesuaian faktor free float mulai berlaku secara efektif.

