Harga Bitcoin Bergerak di Kisaran US$ 80.000, Pelaku Pasar Waspadai Level Psikologis Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) kembali mencetak level tertinggi dalam tiga bulan dengan menembus US$ 80.500 pada perdagangan awal pekan. Kenaikan ini memicu optimisme di kalangan pelaku pasar kripto yang kini menyoroti level krusial berikutnya di kisaran US$ 81.500.
Level tersebut dinilai sebagai ambang psikologis penting bagi trader jangka pendek. Penutupan harga di atas US$ 81.500 diperkirakan akan memperkuat momentum reli, sekaligus membuka peluang kenaikan lanjutan.
Menilik data Coinmarketcap, Selasa (5/5/2026) pukul 06.35 WIB, harga BTC kembali menunjukkan penguatan dalam 24 jam terakhir. Berdasarkan data terbaru, Bitcoin diperdagangkan di level US$ 79.804,23 atau naik sekitar 1,49%. Kenaikan tersebut turut mendorong kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai US$ 1,59 triliun, meningkat 1,63%. Sementara itu, aktivitas perdagangan juga melonjak signifikan, dengan volume transaksi harian tercatat sebesar US$ 54,5 miliar atau naik tajam 172,48%. Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar berada di level 3,4%, mencerminkan likuiditas pasar yang cukup tinggi di tengah pergerakan harga yang menguat.
Penguatan ini menunjukkan minat investor terhadap Bitcoin masih terjaga, meskipun pasar kripto tetap dibayangi volatilitas. Pelaku pasar kini mencermati arah pergerakan selanjutnya, terutama apakah Bitcoin mampu kembali menembus level psikologis US$ 80.000 bahkan ke US$ 81.500 dalam waktu dekat.
Baca Juga
Analis kripto Crazyyblockk menyebutkan bahwa tekanan kerugian investor jangka pendek mulai mereda, dengan rata-rata kerugian menyusut menjadi sekitar 2,17%. Di saat yang sama, aktivitas penjualan juga menunjukkan penurunan, mengindikasikan berkurangnya tekanan jual di pasar.
Indikator on chain turut mengonfirmasi tren tersebut. Rasio keuntungan output yang dibelanjakan (Spent Output Profit Ratio/SOPR) meningkat dari 0,99 menjadi 1,097, menandakan bahwa sebagian besar transaksi kini kembali berada dalam kondisi profit. Sementara itu, investor jangka panjang masih cenderung menahan asetnya, mencerminkan fase akumulasi yang berkelanjutan.
Dari sisi arus bursa, sekitar 97,2% Bitcoin yang masuk berasal dari investor jangka pendek. Namun, tekanan jual terlihat menurun signifikan. Arus masuk yang sempat mencapai 35.649 BTC pada 24 April, turun menjadi 3.895 BTC pada 3 Mei. Bahkan, dalam periode 1–3 Mei, arus masuk bersih hanya tercatat 269 BTC, mengindikasikan keseimbangan antara tekanan jual dan beli.
Baca Juga
Bitcoin Menguat 11,8% di April, Peluang Tembus US$ 100.000 Kembali Disorot
Data juga menunjukkan bahwa pasar mampu menyerap lonjakan pasokan sebelumnya tanpa memicu penurunan harga tajam. Kondisi ini memperkuat indikasi adanya permintaan yang solid di tengah volatilitas pasar.
Di sisi lain, cadangan Bitcoin di bursa meningkat sekitar 5.773 BTC dalam sepekan menjadi total 2,68 juta BTC. Meski demikian, belum terlihat adanya tekanan jual besar-besaran dalam waktu dekat.
Sejumlah pelaku pasar menargetkan level berikutnya di kisaran US$ 84.000, selama Bitcoin mampu bertahan di atas area support sekitar US$ 79.600. Namun, jika harga kembali turun di bawah US$ 80.000, pasar berpotensi menguji ulang level support di sekitar US$ 76.500.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar kini mencermati pergerakan harga di sekitar level kunci, di tengah kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin selanjutnya.

