Rupiah Terdepresiasi ke Rp 17.078 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah kembali terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,25% ke posisi Rp 17.078 per US$ pada perdagangan Selasa pagi (7/4/2026).
Sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia di Asia juga mengalami pelemahan serupa. Yen Jepang melemah 0,14%, ringgit Malaysia melemah 0,29%. Sementara itu, dolar Singapura dan baht Tailan melemah masing-masing 0,18% dan 0,39%.
Di sisi lain, rupee India terpantau menguat 0,04% dan dolar Hongkong menguat 0,01%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan sentimen pasar tetap rapuh karena Presiden AS, Donald Trump mengancam akan meningkatkan aksi militer, termasuk potensi serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Sementara itu, Iran menolak proposal AS untuk gencatan senjata segera.
Baca Juga
Rupiah Capai Rp 17.007 per US$, Imbas Perang di Teluk Persia yang Tak Kunjung Beres
Pada saat yang sama, Trump kembali menegaskan ultimatum untuk pembukaan kembali Selat Hormuz, sehingga menjaga risiko geopolitik tetap tinggi.
Sinyal makroekonomi menjadi lebih beragam, dengan ISM Services PMI turun menjadi 54 pada Maret (dari 56,1 pada Februari, di bawah ekspektasi 55), yang mengindikasikan adanya perlambatan momentum di sektor jasa.
Investor juga menantikan rilis data inflasi AS bulan Maret, yang diperkirakan sebesar 1,0% secara bulanan, dibandingkan 0,3% secara bulanan, pada bulan sebelumnya. untuk mendapatkan arah lebih lanjut terkait kebijakan The Fed.

