Ekonomi Indonesia Alami Inersia dengan Proyeksi Pertumbuhan 5,0–5,3% pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Board of Advisor Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Burhanuddin Abdullah, mengungkap perekonomian Indonesia saat ini menghadapi tantangan tidak semata bersifat siklis, melainkan struktural. Dia mengapresiasi fakta bahwa selama lebih satu dekade, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% secara konsisten.
Namun, kata dia, capaian tersebut sekaligus mencerminkan keterbatasan kemampuan ekonomi nasional untuk berakselerasi ke tingkat yang lebih tinggi.
“Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas. Tantangan kita bukan kurangnya pertumbuhan, melainkan bagaimana keluar dari pola yang membuat pertumbuhan sulit dipercepat,” ujar Burhanuddin dalam acara Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, untuk keluar dari inersia, dibutuhkan keberanian kebijakan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kualitas koordinasi lintas sektor. Kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan menjadi fondasi penting dalam mendorong investasi, inovasi, dan keberanian mengambil risiko produktif.
Baca Juga
Menperin: Pertama Kali dalam 14 Tahun, Pertumbuhan Manufaktur Salip Pertumbuhan Ekonomi
Sejalan pandangan tersebut, Executive Director Prasasti, Nila Marita, menegaskan peran lembaga think tank (lembaga pemikir) yang ia besut sebagai platform kolaboratif guna mempertemukan perspektif pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung perumusan kebijakan publik yang inklusif dan berorientasi ke depan.
“Sebagai think tank, Prasasti berpegang pada tiga pendekatan utama, yakni rekomendasi yang data-driven, berbasis kolaborasi, dan berorientasi pada solusi. Melalui forum ini, kami ingin membangun pemahaman bersama mengenai tantangan dan peluang ekonomi Indonesia, serta mendorong pertukaran gagasan yang tidak hanya konstruktif, tetapi juga aplikatif,” ujar Nila.
Dalam kesempatan itu, Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, menyampaikan bahwa Prasasti memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,0–5,3%.
Proyeksi tersebut ditopang sejumlah faktor utama. Pertama, konsumsi domestik diperkirakan menunjukkan perbaikan seiring stabilisasi kepercayaan konsumen, meskipun ruang akselerasinya masih terbatas. Kedua, kualitas dan efektivitas eksekusi fiskal akan menjadi faktor kunci, terutama di tengah ruang penerimaan negara yang relatif sempit. Ketiga, dinamika nilai tukar rupiah perlu dicermati secara hati-hati.
“Pelemahan rupiah di satu sisi dapat memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor, tetapi pada saat yang sama berpotensi menahan laju investasi, khususnya pada sektor-sektor yang bergantung pada impor barang modal,” jelas Gundy.
Baca Juga
Dubes India Ungkap Lompatan Ekonomi: India Kini Tujuan Ekspor Terbesar Ketiga Indonesia
Prasasti menekankan pentingnya penguatan investasi sebagai mesin pertumbuhan jangka menengah dan panjang, disertai percepatan transformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi nasional.
Prasasti menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor dalam mendukung proses perumusan kebijakan ekonomi yang berbasis data dan berorientasi solusi. Melalui forum ini, Prasasti berharap dapat berkontribusi dalam navigasi arah ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

