Pertumbuhan Ekonomi Global Awal 2026 Stabil, Asia Dinilai Jadi Destinasi Utama Investor
JAKARTA, investortrust.id – Manulife Investment Management menilai kondisi makroekonomi global awal 2026 semakin stabil, membuka peluang bagi investor untuk mengambil risiko secara selektif pada pasar saham, obligasi, dan portofolio multi-aset di Asia. Optimisme ini ditopang oleh inflasi yang mulai turun serta kebijakan moneter yang semakin longgar.
Menjelang paruh pertama 2026, Manulife Investment Management memperkirakan Asia tetap menjadi destinasi utama investor yang mencari pertumbuhan, pendapatan, dan diversifikasi di tengah perubahan ekonomi global.
Baca Juga
BI: Perekonomian Dunia Masih dalam Tren Melambat Akibat Dampak Tarif dan Geopolitik
Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, menyebut volatilitas dan ketidakpastian masih mungkin terjadi. Namun, meningkatnya kejelasan kebijakan dan tren makro yang lebih mendukung menciptakan kondisi yang lebih stabil bagi investor jangka panjang.
“Kisah investasi Asia pada 2026 tidak bergantung pada satu pasar maupun satu tema saja. Kekuatan Asia terletak pada ketahanan, diversifikasi, dan kemampuan beradaptasi di tengah dunia yang terus berubah,” ujar Shao dalam paparan daring, Rabu (21/1/2026).
Dalam outlook pasar dan investasi Asia paruh pertama 2026, Manulife Investment Management menilai pertumbuhan ekonomi global awal 2026 berpotensi stabil, didorong oleh penurunan suku bunga bertahap, kinerja korporasi yang kuat, serta investasi berkelanjutan pada tema produktivitas seperti kecerdasan buatan dan digitalisasi.
Baca Juga
BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025 Lebih Tinggi Didorong Permintaan Domestik
Shao menilai kondisi makro global kini lebih seimbang setelah pasar melewati volatilitas ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Meski risiko geopolitik serta tantangan fiskal di negara maju masih membayangi, Asia tetap menarik bagi investor berkat permintaan domestik yang kuat serta kebijakan yang lebih fleksibel.
“Inflasi mulai turun di banyak negara besar sehingga bank sentral dapat kembali fokus pada pertumbuhan ekonomi. Arah kebijakan moneter kini lebih mudah diprediksi, menciptakan lingkungan yang lebih positif bagi investor global maupun regional,” papar Shao.
Ia menambahkan, Asia berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan pelonggaran kebijakan moneter, pelemahan dolar AS, serta beragam pendorong pertumbuhan domestik. Perbedaan siklus ekonomi Asia dengan negara maju disebut menjadi faktor pembuka peluang investasi baru menuju 2026.

