BPS: Pertambangan Terkontraksi 1,98% Akibat Permintaan Global dan Longsor Tambang Freeport
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor pertambangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang mengalami kontraksi pada kuartal III-2025 di tengah pertumbuhan positif sejumlah sektor utama, seperti industri pengolahan, pertanian, perdagangan, dan konstruksi.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengatakan, kategori pertambangan dan penggalian mengalami penurunan sebesar 1,98% secara tahunan (year on year/yoy). Kontraksi ini terutama disebabkan oleh melemahnya kinerja pertambangan minyak dan gas, batu bara, serta biji logam. “Pertambangan batu bara untuk kuartal III-2025 terkontraksi 7,29%,” ujar Edy dalam rilis resmi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 di kantor BPS, Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Baca Juga
Indo Tambangraya (ITMG) Tebar Dividen Interim Rp 738 per Saham, Simak Jadwal Ini
Penurunan kinerja sektor batu bara terjadi seiring menurunnya permintaan pasar global terhadap komoditas tersebut. Hal ini turut tercermin dari data ekspor batu bara Indonesia yang juga mengalami kontraksi sepanjang periode Juli–September 2025.
Sektor pertambangan selama ini menjadi salah satu penopang ekspor nasional. Namun, pelemahan harga dan permintaan dari sejumlah negara mitra, terutama Tiongkok dan India, memberikan tekanan pada kinerja ekspor Indonesia di tengah tren transisi energi global.
Tambang Freeport Longsor, Produksi Emas Turun
Selain batu bara, pertambangan biji logam juga mengalami penurunan sebesar 3,19% secara tahunan. Edy menjelaskan, kontraksi ini utamanya disebabkan oleh penurunan produksi biji tembaga dan emas. “Penurunan produksi emas terjadi karena kondisi tambang Freeport yang longsor pada September 2025. Kondisi ini menyebabkan penurunan produksi dari tembaga dan emas,” ujarnya.
Baca Juga
PP Presisi (PPRE) Raih Kontrak Baru Rp150 Miliar di Proyek Tambang Nikel Antam (ANTM)
Kondisi tersebut berdampak signifikan pada kinerja subsektor pertambangan logam mengingat PT Freeport Indonesia merupakan salah satu kontributor utama terhadap produksi tembaga dan emas nasional.
Meski demikian, BPS menilai sektor pertambangan masih memiliki peluang untuk pulih pada kuartal berikutnya seiring dengan perbaikan kondisi operasional dan potensi kenaikan harga komoditas di pasar global.

