Ekspansi Ekonomi 2026 Perlu Dirasakan Nyata Seluruh Masyarakat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Optimisme ekspansi dan pertumbuhan ekonomi 2026 merupakan hal yang sangat menggembirakan. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka atau indikator makro, tapi harus bisa dirasakan oleh masyarakat kecil.
“Saya optimis bahwa apa yang dipaparkan oleh para pembicara dalam forum “Outlook Ekonomi 2026” dapat terjadi. Ekspansi ekonomi 2026 tentu membawa harapan besar untuk Indonesia. Di samping angka pertumbuhan, kita perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut juga dirasakan secara merata bagi masyarakat di seluruh pelosok negeri. Bukan hanya pertumbuhan dalam kuantitas, tapi kualitas juga penting. Seringkali angka pertumbuhan ekonomi terlihat tinggi, tapi rakyat terutama di desa tidak merasakan perbaikan,” tutur Dr. dr. Bayu Prawira Hie, MBA, Direktur Eksekutif Intellectual Business Community (IBC) saat menghadiri forum “Economic Outlook 2026: Tahun Ekspansi” yang diselenggarakan oleh Investortrust.id di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan (5/11/2025. Bayu hadir bersama para pemimpin dan tokoh ekonomi nasional, sejumpah pejabat kementerian/lembaga, serta para CEO dan direksi perusahaan.
Forum ini menghadirkan keynote speaker Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (Dirjen SEF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu yang mewakili Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Forum juga dihadiri Hexana Tri Sasongko (Dirut IFG), dan Dian Siswarini (Dirut Telkom Indonesia), dan para CEO sehingga menjadi ajang strategis untuk membahas arah ekonomi nasional dan peluang ekspansi tahun 2026.
Bayu juga menyoroti bahwa pemerataan dan keadilan harus menjadi inti dari agenda pembangunan ekonomi, termasuk juga dalam sektor yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat seperti pendidikan dan kesehatan.
Dalam pandangan Bayu, transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci akselerasi menuju pemerataan dan keadilan tersebut. Teknologi digital dapat menjadi jembatan bagi masyarakat terpencil untuk memperoleh layanan keuangan, kesehatan, dan pendidikan yang setara dengan di kota besar.
“Teknologi digital dan AI bukan hanya instrumen efisiensi, tetapi alat pemerataan kesempatan. Jika dimanfaatkan dengan bijak, hal tersebut bisa membantu negara ini menghadirkan layanan publik dan kesejahteraan yang inklusif — menjangkau mereka yang selama ini tertinggal,” tambahnya.
Sebagai seorang dokter yang memahami dilema pelayanan kesehatan, dosen yang telah mengajar hampir 30 tahun, dan sebagai konsultan yang memimpin transformasi digital berbagai bank nasional, Bayu menekankan pentingnya mengukur kesejahteraan rakyat bukan hanya dari angka statistik, namun harus dirasakan oleh seluruh rakyat berupa kemajuan ekonomi dengan keadilan sosial dalam pendidikan dan kesehatan.
“Ekspansi ekonomi yang sejati adalah ketika pertumbuhan kesejahteraan ada pada setiap manusia Indonesia. Tahun 2026 harus menjadi bukan hanya tahun ekspansi, tetapi juga tahun pemerataan dan keadilan — di mana kemajuan ekonomi berpadu dengan kemanusiaan,” pungkasnya.

