Money is a Tool, not a Goal
Oleh Lily Widjaja
Praktisi Pasar Modal
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Dalam Homili pada Perayaan Ekaristi 50 Tahun Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Jakarta, Bapak Ignatius Kardinal Suharyo mengingatkan agar kita tidak ikut arus dalam ekonomi keserakahan. Beliau terinspirasi oleh artikel di Kompas berjudul Ekonomi Syariah vs Ekonomi Kapitalis dan Ekonomi Sosialis.
Bacaan Injil dalam Perayaan Ekaristi ini diambil dari Matius 25:14-29, yaitu tentang seorang tuan yang hendak berpergian dan menitipkan masing-masing 5 talenta, 2 talenta, dan 1 talenta kepada hamba-hambanya untuk dijalankan.
Aku, dan kiranya umumnya kita semua, memahami tema sentral perikop Matius 25:14-29 ini adalah tentang tanggung jawab, setia pada perkara kecil sehingga layak dipercayakan perkara besar.
Pemegang 5 talenta menghasilkan laba 5 talenta. Pemegang 2 talenta menghasilkan laba 2 talenta. Namun pemegang 1 talenta tidak menghasilkan apa-apa karena dia menyembunyikan 1 talenta dari tuannya itu di dalam tanah.
Pemegang 1 talenta disimpulkan sebagai orang yang tidak setia pada perkara kecil, tidak bertanggung jawab atas harta yang dipercayakan kepadanya, pada gilirannya tidak pantas diberi tanggung jawab yang lebih besar.
Dalam homili ini, secara khusus Ignatius Kardinal Suharyo mengangkat Lukas 19:11-27 tentang seorang bangsawan di tanah Palestina yang ingin menyuap petinggi di Roma agar dirinya diangkat menjadi raja, sehingga berupaya menghasilkan uang sebanyak-banyaknya.
Bangsawan ini memberi 10 mina kepada 10 hamba-hambanya. Hamba yang melipatgandakan 1 mina menjadi 10 mina dipuji dan diberi kekuasaan atas 10 kota. Demikian juga hamba yang berhasil melipatgandakan 1 mina menjadi 5 mina diberi kekuasaan atas 5 kota.
Namun yang menarik dari homili Bapak Ignatius Kardinal Suharyo ialah justru hamba yang menyimpan 1 mina dalam sapu tangan, yang tidak menghasilkan apa-apa, yang dinilai sebagai orang berintegritas yang tidak ikut arus dalam ekonomi keserakahan pelipatgandaan uang dari 1 mina menjadi 10 mina (1.000%), atau dari 1 mina menjadi 5 mina (500%).
Pelipatgandaan uang menjadi 1.000% atau 500% dalam perikop ini memang dapat dimaknai sebagai keserakahan. Hal ini dipertegas dengan pemberian hadiah atau imbalan atau kekuasaan dari bangsawan kepada hambanya seturut besaran yang dihasilkan masing-masing hamba. Iming-iming transaksional seperti ini cenderung mendorong seseorang berlomba menghasilkan terbanyak agar memperoleh kekuasaan terbesar, tak jarang tujuan menghalalkan segala cara. Ini mungkin tidak asing kedengarannya dalam hidup berbangsa dan bernegara kita?!
Dalam alur pikir tentang latar belakang bangsawan yang berambisi dinobatkan menjadi raja dengan cara menyuap, tentu apa yang disampaikan dalam homili tentang peringatan melawan keserakahan dapat dipahami dengan baik.
Baca Juga
Gubernur BI Beri Sinyal Rupiah Digital Akan Jadi Stable Coin Resmi Indonesia
Berbicara tentang uang, memang bisa sangat kompleks, namun juga bisa sangat sederhana.
Menurut aku, pertama-tama yang harus diingat dan disepakati adalah subjek yang akan dilayani dan tujuan dari uang (uang = talenta dalam Matius dan mina dalam Lukas).
Dalam berbangsa dan bernegara, subyek jelas adalah rakyat. Dan tujuan uang jelas adalah kesejahteraan rakyat. Hans Kung dalam bukunya yang berjudul On Being a Christian mengatakan “God's will: man’s wellbeing.” Kehendak Allah: kesejahteraan manusia. Luar biasa solid dan valid!
Kebutuhan mendasar dari rakyat adalah sandang, pangan, dan papan. Rakyat perlu makan untuk hidup, perlu pakaian untuk beraktifitas, dan perlu rumah untuk berteduh.
Untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan papan, rakyat perlu bekerja (kecuali tidak perlu bekerja karena dipelihara Pemerintah; Pemerintah pun agar mampu memelihara rakyat, perlu ada penghasilan atau penerimaan misalnya dividen dari kegiatan investasi dan pajak dari aktivitas bisnis). Maka diperlukan lapangan pekerjaan yang dibuka melalui aktivitas ekonomi, misalnya investasi di sektor riil, terutama yang padat karya bagi negara yang tingkat penganggurannya masih tinggi.
Gebrakan Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengucurkan dana ke dalam sistem ekonomi diharapkan dapat menurunkan suku bunga kredit dan ditargetkan dapat menggerakkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, agar rakyat dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Selain penerimaan Pemerintah yang dharapkan dapat meningkat karena tax ratio yang meningkat berkat aktivitas ekonomi yang meningkat, pada akhirnya tentulah adalah agar dapat mencapai tujuan dari uang, yaitu kesejahteraan rakyat.
Selama alat tukar adalah uang, dan uang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan papan, maka pengelolaan keuangan yang setia dan bertanggung jawab (yang menghasilkan atau melipatgandakan, misalnya dari 1 menjadi 2 atau 5, dan seterusnya) tidak sertamerta harus diperlawankan dengan keserakahan (yang dimaksudkan untuk kepentingan diri).
Bahkan esensi aktivitas ekonomi sendiri adalah peningkatan nilai, agar dapat berkembang lebih besar, sehingga dapat berbuat lebih banyak kebaikan.
Pada akhirnya, lagi-lagi terkembali kepada tujuan peningkatan nilai atau uang tersebut, apakah untuk kesejahteraan umum sehingga layak disebut setia dan bertanggung jawab, atau untuk kepentingan diri sehingga pantas disebut serakah.
Refleksi Bapak Ignatius Kardinal Suharyo dengan mengambil perikop dari Lukas (walau bacaan liturgi hari itu adalah dari Matius) sangat relevan, apalagi masih ada kesejajaran sinoptik. Namun bagiku, dan kiranya kebanyakan umat, konteks yang diangkat tampaknya tidak biasa, setidaknya belum pernah aku dengar sebelumnya.
Uraian Bapak Uskup menjadi terang dan jelas ketika dikaitkan dengan sinyalemen dan fenomena tindak korupsi di kalangan para penguasa dan pengusaha di negeri Indonesia tercinta, setidaknya yang diberitakan luas di media massa.
Bahkan Presiden Prabowo Subianto pernah menyebut fakta ini sebagai serakahnomics dalam suatu kesempatan di hadapan publik. Kita mengenal istilah Soemitronomics yang merujuk pada paham atau mashab ekonomi yang dikaitkan dengan pemikiran ayahanda dari sang Presiden sendiri. Ada juga Habibienomics yang merujuk pada kebijakan ekonomi Presiden BJ Habibie di awal masa Reformasi sesudah kejatuhan Orde Baru.
Baca Juga
Menkeu Sebut Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6% untuk Tarik Tenaga Kerja ke Sektor Formal
Keserakahan itu adalah lebih daripada sekedar memenuhi segala kebutuhan dasar sampai kebutuhan tersier. Bandingkan seorang nenek Asyani yang mencuri 2 batang kayu jati di lahan Perhutani, perusahaan hutan milik negara, lalu ditangkap dan masuk pengadilan, dan dihukum 1 tahun penjara dan denda subsider Rp500juta. Ini jelas hukuman yang sangat berlebihan, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Menarik bahwa ekonomi dikaitkan dengan keserakahan (bukan dengan nama orang) oleh Presiden Prabowo. Seolah ada mashab ekonomi yang berbasis pada sikap dan prilaku manusia yang serakah, sejajar maknanya dengan rakus pada dunia binatang.
Aku sendiri cenderung memaknai Prabowonomics untuk menggarisbawahi kebijakan ekonomi Prabowo yang efisien dan efektif, yang anti korupsi dan segala wujud penyelewengan dan keserakahan, yang berfokus pada kesejahteraan rakyat. Dan menggunakan istilah common-sense-nomics untuk menggambarkan gebrakan-gebrakan Menteri Keuangan Purbaya yang sedemikian sejalan dengan akal sehat, tanpa pretensi menyederhanakan realita yang penuh tantangan.
Kembali ke perumpamaan mina dalam perikop Lukas yang diangkat Bapak Ignatius Kardinal Suharyo, yang didahului oleh perikop tentang Zakheus, seorang pemungut cukai yang dikenal sebagai pendosa di kalangan masyarakat Yahudi waktu itu, karena mesti melayani penguasa kerajaan Romawi (Lukas 19:1-10): Setelah rumahnya didatangi Yesus, Zakheus tersentuh dan bertobat, dengan mengatakan akan memberikan separuh dari kekayaannya kepada orang miskin, dan akan mengembalikan 4 kali lipat dari apa yang pernah dia peras dari orang lain. Janji tulus Zakheus untuk memberi 50% (bukan 10% atau persepuluhan) dari harta miliknya kepada orang miskin, dan mengembalikan 4 kali lipat (400%) atas apa yang diperolehnya dengan tidak pantas atau dengan serakah, mungkin dapat menjadi inspirasi tentang pertobatan yang membuahkan kemurahan hati dan penitensi?

