Dolar Anjlok Akibat Kekhawatiran Data Ekonomi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah menguat pada Senin (4/8/2025) pagi setelah dolar Amerika Serikat (AS) jeblok imbas pemecatan pejabat Biro Statistik Negara Kerja atau Bureau of Labor Statistics (BLS) oleh Presiden Donald Trump.
Dilansir Bloomberg, kurs rupiah menguat tajam hingga 126 poin (0,76%) ke level Rp 16.388 per dolar AS pagi ini.
Pemecatan mendadak Komisaris Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS/Bureau of Labor Statistics), Erika McEntarfer, oleh Presiden Donald Trump memicu kecaman luas dari kalangan ekonom, mantan pejabat pemerintah, dan pelaku pasar.
Langkah tersebut dipandang sebagai upaya mengintervensi otoritas statistik negara yang selama ini dijaga independensinya, tepat ketika angka tenaga kerja AS mengalami revisi negatif terbesar sejak pandemi.
Dilansir dari Reuters, Trump menuduh Erika McEntarfer memalsukan angka ketenagakerjaan, meski tidak memberikan bukti manipulasi data. BLS adalah lembaga yang menyusun laporan ketenagakerjaan yang sangat diperhatikan, serta data harga konsumen dan produsen.
Baca Juga
Dolar AS Menguat di Hari Pertama Kebijakan Tarif Trump, Kurs Rupiah Anjlok
Para penasihat ekonomi utama Gedung Putih pada Minggu (3/8/2025) membela keputusan Presiden Donald Trump memecat Erika McEntarfer, menanggapi kritik bahwa tindakan tersebut dapat menggerus kepercayaan publik terhadap data ekonomi resmi Amerika Serikat.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan kepada CBS bahwa Trump memiliki “kekhawatiran nyata” terkait data tersebut, sementara Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett menyatakan bahwa presiden “berhak memutuskan kepemimpinan baru.”
Hassett menyebut laporan BLS pada Jumat sebagai perhatian utama, yang menunjukkan revisi turun bersih dengan 258.000 pekerjaan lebih sedikit diciptakan pada Mei dan Juni dibanding laporan sebelumnya.
BLS tidak memberikan alasan khusus untuk revisi data tersebut, namun menjelaskan bahwa “revisi bulanan berasal dari laporan tambahan yang diterima dari bisnis dan instansi pemerintah sejak estimasi terakhir dipublikasikan, dan dari penghitungan ulang faktor musiman.”
McEntarfer menanggapi pemecatan mendadaknya pada Jumat lewat unggahan di platform media sosial Bluesky, menyebut bahwa menjabat sebagai komisaris BLS merupakan “kehormatan terbesar dalam hidupnya,” dan memuji para pegawai negeri yang bekerja di lembaga tersebut.
Pemecatan McEntarfer memperburuk kekhawatiran tentang kualitas data ekonomi AS yang dipublikasikan pemerintah federal, dan terjadi setelah gelombang tarif baru AS terhadap puluhan mitra dagang yang mengguncang pasar saham global saat Trump melanjutkan agenda restrukturisasi ekonomi dunia.
“Saya pikir yang kita butuhkan adalah sudut pandang baru di BLS, seseorang yang bisa merapikan lembaga ini,” ujar Hassett di acara “Fox News Sunday.”

