Ekonom Minta Prabowo Tak Ladeni Drama Tarif Trump, Saran Prioritaskan Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ahli ekonomi dari Prasasti Center for Policy Studies, Gundy Cahyadi, merespons keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) yang akhirnya memberikan tarif impor barang asal Indonesia sebesar 19%. Ia meminta Presiden Prabowo Subianto untuk tidak meladeni penuh drama tarif yang digulirkan oleh Trump.
Menurut Gundy, yang juga menjabat sebagai research director di Prasasti, penting untuk melihat dinamika ini dalam konteks yang lebih luas.
"Tarif ala Trump lebih merupakan panggung politik ketimbang kebijakan jangka panjang yang serius. Pasar keuangan global sudah cukup terbiasa dengan gaya berpolitik teatrikal ini," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (17/7/2025).
Sebagai ilustrasi, Gundy mencatat setelah Liberation Day di bulan April lalu, volatilitas pasar global melonjak—dengan indeks VIX menyentuh level tertingginya sejak pandemi. Namun pada bulan Juli, reaksi pasar cenderung mereda.
"Investor cenderung melihat ancaman tarif sebagai bagian dari pola lama, yakni ancaman di depan layar, negosiasi di balik layar," ungkapnya.
Lebih lanjut, Gundy menyoroti perekonomian Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekspor, bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN. Ia mencatat ekspor Indonesia AS hanya mencakup 10% dari total ekspor nasional.
Ia mengasumsikan dengan nilai ekspor tahun lalu sebesar US$ 290 miliar, skenario terburuk apabila pasar AS ditutup makan akan berdampak hilangnya sekitar US$ 29 miliar.
"Angka ini signifikan, namun setara dengan hanya 2% dari total PDB Indonesia. Terasa, tapi tidak sampai mengguncang fondasi ekonomi," jelasnya.
Baca Juga
Rahasia 17 Menit Telepon Prabowo-Trump, Tarif Impor RI ke AS Turun Drastis
Menurut Gundy, fokus utama Indonesia saat ini seharusnya tetap pada upaya mendorong investasi. Dalam hal ini, ia mengapresiasi langkah Prabowo yang mampu memperkuat kemitraan internasional, salah satunya termasuk keputusan bergabung dengan BRICS.
"Keputusan Presiden Prabowo untuk tetap hadir dalam KTT BRICS meski ada tekanan dari Presiden Trump menunjukkan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang konsisten, memperluas kerja sama, memperkuat posisi, dan menjaga ketegasan. Jika Trump tampil dengan drama, maka Jakarta sedang menulis naskahnya sendiri," paparnya.
Diketahui pada Kamis (16/7/2025) dinihari lalu, publik dikejutkan kabar adanya kesepakatan antara Prabowo dengan Trump terkait penurunan tarif impor barang asal Indonesia ke Amerika Serikat, dari usulan sebelumnya sebesar 32% menjadi 19%. Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia juga disebut telah berkomitmen untuk membeli produk energi senilai US$ 15 miliar, produk pertanian senilai US$ 4,5 miliar, serta 50 unit pesawat Boeing terbaru.

