La Remontada Prabowo
Oleh Ongky Hojanto,
Pakar Public Speaking Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Pertumbuhan ekonomi kuartal I mendekati revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia dari 5% menjadi 4,7% untuk tahun ini. Realisasi pertumbuhan itu juga menjauh dari asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2025 sebesar 5,2%.
Tak hanya itu, jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia pada periode Januari hingga 23 April 2025 telah mencapai 24.036 orang. Ini berarti sudah sepertiga total PHK sepanjang 2024.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Maret 2025 juga turun 5,3 poin dibandingkan Februari 2025. Penurunan IKK selama tiga bulan berturut-turut mencerminkan penurunan daya beli masyarakat.
Tiga hal di atas adalah sedikit dari beberapa masalah yang terus menghantam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di era pertama kekuasaannya. Ibarat terus kemasukan gol, maka kemenangan hanya bisa diraih apabila pemerintah bisa melalukan la remontada, yang dalam bahasa Spanyol diartikan membalikkan keadaan.
La remontada adalah mencetak kesuksesan dengan membalikkan masalah menjadi keberhasilan, atau mengubah kekalahan menjadi kemenangan.
Baca Juga
Beli Neto Asing Menipis ke Rp 0,12 Triliun di Pasar Keuangan, Dampaknya?
Optimisme Kapten Tak Cukup
Jika Anda penggemar sepak bola, tentu masih segar dalam ingatkan la remontada yang terjadi dalam pertandingan Inter Milan vs Barcelona di semifinal Liga Champions UEFA 2024/2025 beberapa hari lalu. Semangat la remontada ditunjukan oleh kedua tim.
Dibabak pertama, skor 2-0 untuk Inter Milan. Memasuki babak kedua, semangat la remontada ditunjukkan oleh Barcelona yang berbalik 3-2 hingga menit 90 plus 2:44 dari 5 menit waktu tambahan yang diberikan. Di sisa dua menit akhir, gantian Inter Milan menunjukkan mentalitas la remontada dengan menyamakan kedudukan 3-3 dan kemudian menambah satu gol lagi dimasa perpanjangan waktu yang mengatarkan mereka ke final dengan skor 4-3.
Mentalitas la remontada itu harus ditunjukkan oleh jajaran Kabinet Merah Putih di bawah arahan kapten Prabowo. Mentalitas la remontada sebetulnya telah dimiliki oleh Presiden Prabowo yang berkali-kali menapik isu Indonesia gelap, dengan mengutip proyeksi Goldman Sachs bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2050.
Namun, optimisme dari seorang kapten tidaklah cukup untuk membawa tim melakukan la remontada. Minimal tiga hal ini harus dilakukan, berkaca pada keberhasilanInter Milan melakukan la remontada dan memenangkan pertandingan :
1. Strategi Efektif
Melakukan pemetaan secara detail. Petakan sektor-sektor unggulan yang dapat memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat, yang efektif menjadi solusi pendek berdampak besar.
2. Kerja Sama TIM
Mengubah dari mentalitas TEAM ke TIM. Mentalitas TEAM (Together Everyone Achieve More) atau hanya melihat keuntungan yang diperoleh untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau partai yang terlibat dalam pemerintahan harus dibakar hangus. Mentalitasi baru dibangun, menjadi TIM (Together Indonesia achieves More). Tindakan dan keberhasilan harusnya untuk kemajuan Indonesia
3. Marking
Marking dalam sepak bola adalah strategi bertahan di mana pemain menjaga lawan secara ketat, baik dengan menjaga pemain individu (man-to-man marking) atau menjaga area tertentu di lapangan (zone marking). Marking juga bisa berarti pengawasan yang ketat terhadap anggaran atau melakukan man–to-man marking kepada para biang rusuh yang menggangu stabilitas investasi, seperti ormas pemeras dan kelompok orang sejenis.
Pemerintahan Presiden Prabowo masih panjang dan belum memasuki masa injury time, sehingga mentalitas la remontada harus segara dikembangkan. Bangsa Indonesia ingin segera meraih kemenangan dalam daya beli, kemenangan dalam berbisnis, dan kemenangan dalam kesejahteraan rakyat.
Kalau tifosi Inter Milan meneriakkan "forza Inter", kami meneriakkan "forza Prabowo". Semangat Prabowo!

