Sebesar US$ 2,8 Miliar Dana Asing Keluar Sejak Tarif Trump Diumumkan
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menetapkan tarif resiprokal membawa ketidakpastian di sektor keuangan global. Sejak Trump mengumumkan penetapan tarif pada 2 April hingga 21 April 2025, terjadi net outflow sebesar US$ 2,8 miliar.
“Sejak diumumkan kebijakan tarif, 2 April hingga 21 April investasi portofolio mencatatkan net outflow US$ 2,8 miliar,” kata Perry, saat konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar daring, Kamis (24/4/2025).
Perry mengatakan perginya investasi portofolio ini bukan karena imbal hasil atau perbedaan suku bunga dalam negeri dan luar negeri. Namun karena risk appetite investor global yang tinggi.
“Sehingga mereka (investor) menarik modalnya tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari emerging market lain,” jelas dia.
Hengkangnya investor terjadi karena premi risiko investor global mengalami gangguan.
Baca Juga
“Premi risiko dari risiko global ini bisa dilihat dari indikator-indikator lain terhadap, misalnya terhadap fixed CDS (Credit Default Swap) yang tinggi,” kata dia.
Melihat kondisi ini, para investor global memindahkan investasi portofolio nya ke negara dan aset yang dianggap aman. Aliran modal keluar dari pasar negara berkembang ke negara-negara yang dianggap aman antara lain, Eropa dan Jepang. Sementara aset yang dianggap menguntungkan yaitu emas.
Meski begitu, Perry optimistis dengan dinamika kebijakan tarif yang sedang berjalan. Optimismenya muncul dari semakin terangnya negosiasi tarif dan dampaknya terhadap perekonomian AS dan China, serta negara-negara lain.
“Risk appetite akan turun sehingga investor global akan kembali ke Indonesia dengan imbal hasil yang menarik di Indonesia dan prospek ekonomi Indonesia yang cukup baik,” ujar dia.

