Kadin Indonesia Sampaikan Optimisme Pertumbuhan Perekonomian Indonesia pada Kamar Dagang Internasional
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Anindya Novyan Bakrie menyampaikan optimisme Indonesia dalam menghadapi gejolak geopolitik dan potensi pelemahan perekonomian dunia kepada Kamar Dagang Internasional.
Optimisme ini disampaikan Anindya ketika bertemu dengan Sekretaris Jenderal International Chamber of Commerce (ICC) John Denton saat melakukan perjalanan bisnis ke Paris, Prancis, Rabu (17/4/2024). John Denton sendiri merupakan sahabat lamanya ketika Anindya berada di Amerika Serikat.
“Mumpung di Prancis, saya bertemu dengan sahabat lama John Denton, yang merupakan Secretary General of International Chamber of Commerce. ICC adalah lembaga yang mempromosikan sistem perdagangan dan investasi internasional terbuka yang mendorong perdamaian, kemakmuran, dan peluang bagi semua. Bersifat netral dan mandiri, ICC membangun hubungan terpercaya dengan para pembuat kebijakan dan organisasi internasional,” tutur Anindya dalam akun media sosial Instagramnya, yang dipublikasikan Rabu (17/4/2024)
Disampaikan Anindya kepada John Denton, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024 dan 2025 diprediksi masih solid kendati ikut mengalami perlambatan seperti negara-negara lainnya di dunia. Mengutip apa yang telah disampaikan oleh dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024 diproyeksikan masih akan ada di kisaran sekitar 5% dan ditargetkan naik tipis 5,1% pada 2025.
Sejatinya angka pertumbuhan tersebut masih berada di atas proyeksi yang ditetapkan IMF untuk China dan Amerika Serikat (AS). Pada 2024 ini, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China berada pada 4,6% dan pada 2025 sebesar 4,1%. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi AS berada pada kisaran 2,7% pada 2024 dan 1,9% pada 2025.
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berada di atas lima negara Asia Tenggara atau Asean-5 pada 2024,” kata Anindya dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (18/4/2024).
Baca Juga
IMF Revisi Naik Pertumbuhan Ekonomi AS, Euro Turun, Bagaimana Indonesia?
Dalam kesempatan tersebut, Anindya juga menyampaikan bahwa tingkat inflasi Indonesia pada periode Maret 2024, kendati mengalami kenaikan karena memasuki periode puasa dan menjelang Lebaran, menjadi sebesar 0,52% (month to month), sehingga secara tahunan menjadi 3,05% (year on year/yoy). Seperti yang sempat disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, angka inflasi Indonesia masih pada kisaran yang manageable.
Masih manageable-nya tingkat inflasi pada Maret seiring dengan kenaikan permintaan musiman periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri, juga sempat disampaikan oleh Bank Indonesia, yang meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2024.
Soal kesehatan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), lanjut Anindya, terefleksi pada rasio utang terhadap PDB yang juga masih berada di kisaran yang aman. Anindya menuturkan, rasio utang per akhir Februari 2024 yang sebesar 39,06% terhadap PDB, tetap masih konsisten terjaga di bawah batas aman 60% PDB sesuai UU Nomor 17/ 2003 tentang Keuangan Negara.
Di samping itu, rasio ini juga dianggap lebih baik dari yang telah ditetapkan melalui Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah tahun 2024-2027 di kisaran 40%.
Soal nilai tukar rupiah, disebutkan bahwa terdepresiasinya rupiah terhadap dolar AS yang menembus batas psikologis Rp16.000 per dolar AS sejatinya merupakan refleksi dari ketidakpastian geopolitik global. Dan apresiasi nilai tukar dolar AS terjadi hampir pada seluruh mata uang dunia.
Anindya menekankan bahwa perekonomian Indonesia masih berada di track yang baik dalam menghadapi tantangan geopolitik global, serta potensi perlambatan perekonomian dunia.
Baca Juga
Rupiah Rebound ke Rp 16.159/USD, Diproyeksikan Penguatan Dolar Sudah Terbatas
Apalagi, kata Anindya, dalam pesta demokrasi Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden yang digelar pada 14 Februari 2024 lalu, telah terpilih Prabowo Subianto sebagai Presiden periode 2024 – 2029, yang akan melanjutkan program-program pembangunan pro pertumbuhan yang telah dijalankan oleh Presiden Joko Widodo.
“Dalam pertemuan di Kantor Pusat ICC ini, kami mendiskusikan mengenai banyak hal. Misalnya bagaimana Indonesia bisa memainkan perannya sebagai negara yang tergabung dalam OECD, juga negara yang ingin menjadi salah satu pimpinan di Global South,” kata Anindya, yang menurutnya merupakan bagian dari sebuah upaya untuk membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi Indonesia, sembari memperkuat relasi global.
“Ïni merupakan sebuah upaya yang telah dikerjakan Pak Presiden Joko Widodo selama ini dan akan dilanjutkan oleh Pak Prabowo,” ujarnya.
Anindya juga menyampaikan bahwa di tempat terpisah, masih di Prancis, ia bertemu dengan Marie-Cécile Tardieu, COO of Business France atau Agensi Ekonomi untuk Pemerintah Prancis, untuk mendiskusikan banyak hal terkait peluang kerja sama Indonesia dan Prancis.
“Di tempat terpisah saya juga bertemu dengan Marie-Cécile Tardieu COO of Business France (agensi ekonomi pemerintah Prancis). Kita juga mendiskusikan banyak hal terkait peluang kerja sama Indonesia dan Prancis,” kata Anindya.
“Semoga ikhtiar kecil saya ini bisa memberi kontribusi untuk kemajuan dan kesejahteraan Indonesia,” tutupnya.

