Bos LPS Sebut Sejatinya Indonesia Tak Alami Deflasi di Januari – Februari 2026, Ini Alasannya
JAKARTA, Investortrust.id - Sejumlah ekonom yang menyebut perekonomian Indonesia tengah didera pelemahan daya beli, yang ditandai oleh deflasi selama dua bulan berturut-turut pada awal tahun. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa justru menyebut sejatinya angka inflasi masih berada di level normal, di kisaran 2,3%, yang artinya masih ada daya beli di masyarakat.
Dikemukakan Purbaya dalam kesempatan Podcast Konvergensi bersama CEO Investortrust, Primus Dorimulu, Kamis (27/3/2025), terjadinya deflasi pada Januari dan Februari merupakan hasil kebijakan pemerintah yang memberikan diskon tarif listrik sebesar 50% selama dua bulan berturut-turut, sebagai bentuk insentif pemerintah kepada masyarakat kalangan tidak mampu.
Dikatakan Purbaya, jika Badan Pusat Statistik tidak memasukkan komponen diskon tarif listrik dalam perhitungan angka inflasi, maka angka inflasi inti masih normal di kisaran 2,3%.
“Inflasi kita kan Januari-Februari negatif dua-duanya. Katanya itu yang disebut oleh ekonom-ekonom menunjukkan daya beli yang menurun, saya pikir oh dahsyat ini (inflasi) negatif. Tapi saya investigasi lebih lanjut kenapa enggak in line dengan data ekonomi. Ternyata ada yang menarik ke bawah, yaitu harga-harga barang yang dikendalikan oleh pemerintah, yaitu tarif listrik 2 bulan diskon 50%,” kata Purbaya.
Ia tak lantas menyalahkan BPS yang ikut memperhitungkan diskon tarif listrik, namun ia menyayangkan bahwa hasil penghitungan dengan memasukkan diskon tarif listrik justru melahirkan persepsi negatif di sejumlah ekonom. Sejumlah ekonom menyimpulkan bahwa telah terjadi pelemahan daya beli.
Baca Juga
Baginya, inflasi 0% tentunya bukan cerminan yang baik bagi perekonomian sebuah negara. Idealnya, kata Purbaya, angka inflasi yang baik adalah di kisaran 2% hingga 3%. “Inflasi nol persen itu jelek, inflasi di atas 15% juga jelek. Inflasi yang bagus di mana? Di antara 2 sampai 3%,” tukasnya.
Dalam kesempatan yang sama Purbaya mengakui bahwa perekonomian memang mengalami pelemahan hingga Desember tahun lalu, yang salah satunya ditandai dengan penurunan penjualan kendaraan bermotor dan semen, serta flatnya level purchasing manager index (PMI).
“Kondisi ekonomi memang ada pemburukan sampai dengan Desember tahun lalu (2024), semuanya turun. Penjualan mobil, semen, dan lain-lain turun. Bahkan PMI (purchasing manager’s index) juga flat. Tapi setelah saya lihat lebih detail, data-data terakhir Januari-Februari ada pembalikan arah yang cukup signifikan,” kata Purbaya.
Purbaya juga menyampaikan, PMI Manufaktur Indonesia terakhir mencatatkan level 53,6 yang menggambarkan optimisme para pelaku usaha manufaktur di Indonesia terhadap perekonomian domestik ke depan.
Baca Juga
“Purchasing manager index juga sudah (meningkat) positif terakhir di 53,6, artinya mereka (manufaktur) memprediksi belanja mereka akan besar sekali ke depan tumbuhnya. Karena mereka lihat pasti demand kencang,” ujar Purbaya, seraya menambahkan meningkatnya kepercayaan industri dan manufaktur, juga diikuti oleh peningkatan kepercayaan dari para konsumen terhadap perekonomian ke depan.
“Indeks kepercayaan konsumen di bulan Februari naik kencang, dari bawah 100, atau 90 sekian naik ke atas 100, di 105 kalau enggak salah. Jadi untuk pertama kali setelah selama berbulan-bulan masyarakat kita optimis terhadap kondisi ekonomi mereka,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan, BPS mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2025 mencetak deflasi 0,48% secara bulanan (month to month/mtm). Disampaikan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers, Senin (3/3/2025), penyebab deflasi adalah tarif diskon listrik dengan andil 0,67%. "Komoditas utama penyebab deflasi Februari adalah diskon tarif listrik, daging ayam ras, cabai merah, tomat dan telur ayam ras," kata Amalia saat itu.
Deflasi ini melanjutkan situasi Januari 2025, namun tidak lebih dalam. Jika melihat data lima tahun terakhir, tingkat inflasi Februari lebih rendah dibandingkan Januari 2021-2023. Sedangkan Februari 2024, inflasinya lebih tinggi dibandingkan Januari. Sebagai catatan, IHK Januari 2025 tercatat deflasi 0,76% (% mtm) dan secara tahunan tercatat inflasi 0,76%.

