Rupiah Melemah Jelang Pelantikan Trump
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Kamis (16/1/2025), menjelang pelantikan Presiden Amerika Serikat Terpilih Donald Trump. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah ditutup melemah 67 poin (0,41%) ke level Rp 16.378 per dolar AS, dibanding kemarin di posisi Rp 16.311 per dolar AS.
Dari data perdagangan di pasar spot valas yang dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak melemah 41 poin (0,25%) ke level Rp 16.355 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, kurs rupiah berada di posisi Rp 16.314 per dolar AS.
"Dengan kembalinya Presiden Terpilih Donald Trump ke Gedung Putih minggu depan, para analis memperkirakan beberapa kebijakannya akan mendorong pertumbuhan AS serta meningkatkan tekanan harga. The Fed akan sangat berhati-hati untuk melanjutkan pemotongan suku bunga, hingga ada kepastian mutlak bahwa inflasi akan kembali turun," beber Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Kamis (16/1/2025).
Baca Juga
Bos BNI Sebut Penurunan BI Rate Jadi Sinyal Positif Ke Perbankan
Selain itu, AS memberlakukan sanksi yang lebih luas pada produsen minyak dan tanker Rusia. Langkah-langkah sanksi AS yang baru membuat pelanggan utama Moskow menjelajahi dunia untuk mencari minyak pengganti, sementara tarif pengiriman juga melonjak.
Pemerintahan Biden pada hari Rabu memberlakukan ratusan sanksi tambahan yang menargetkan pangkalan industri militer Rusia dan skema penghindaran.
Inflasi AS di Bawas Estimasi
Ibrahim Assuaibi membeberkan, rilis data inflasi indeks harga konsumen AS untuk bulan Desember sebenarnya sedikit lebih rendah dari yang diharapkan. Consumer Price Index (CPI) utama sesuai dengan estimasi, sementara CPI inti meleset dari ekspektasi. Data ini keluar hanya sehari setelah data indeks harga produsen yang lebih lemah dari yang diharapkan.
"Dengan rendahnya data CPI sebenarnya memicu peningkatan taruhan bahwa pelonggaran inflasi AS akan memberi The Fed lebih banyak keyakinan untuk memangkas suku bunga, tahun ini. Bank Sentral AS diproyeksikan akan memangkas suku bunga dua kali pada tahun 2025, setengah dari total penurunannya pada tahun 2024," kata Ibrahim.
Baca Juga
Asing Kompak Masuk SBN-Saham, BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Bisa 5,5%
Fokus minggu ini, lanjut dia, akan tertuju pada beberapa indikator ekonomi utama yang akan memberikan wawasan tentang kinerja ekonomi Cina pada penutupan tahun 2024. Angka produk domestik bruto (PDB) negara tersebut untuk tahun 2024 akan dirilis pada hari Jumat. Selain itu, akan dirilis data produksi industri Desember dan angka penjualan ritel.

