Asing Jual Neto Rp 7,50 Triliun Sepekan, Bunga SRBI Naik Tembus 7% Lebih
JAKARTA, investortrust.id – Dalam sepekan ini, Bank Indonesia mencatat aliran modal asing masih lanjut keluar dari pasar keuangan Indonesia. Penjualan bersih (net sell) mencapai Rp 7,50 triliun, naik dibanding pekan sebelumnya.
“Berdasarkan data transaksi 18-21 November 2024, non-resident (di pasar keuangan domestik) tercatat jual neto Rp 7,50 triliun. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 3,30 triliun di pasar saham, Rp 3,59 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), dan Rp 0,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, pada hari terakhir perdagangan pekan ini, Jumat (22/11/2024).
Penjualan neto ini lebih tinggi dari periode sama sepekan lalu. Berdasarkan transaksi 11 – 14 November 2024, non-resident tercatat melakukan jual neto Rp 7,42 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto Rp 4,12 triliun di pasar saham dan Rp 3,65 triliun di SRBI, sedangkan di pasar SBN masih mencatatkan beli neto Rp 0,35 triliun.
Baca Juga
Pada semester II-2024, lanjut dia, non-resident tercatat masih beli neto sebesar Rp 26,81 triliun di pasar saham. Selain itu, beli neto Rp 67,13 triliun di pasar SBN dan Rp 57,33 triliun di SRBI.
Selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen hingga 21 November 2024, non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 27,15 triliun di pasar saham dan Rp 33,17 triliun di pasar SBN. Selain itu, Rp 187,68 triliun di SRBI.
Sementara itu, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 21 November 2024 sebesar 72,65 bps. Ini meningkat dibanding pada 15 November 2024 sebesar 72,61 bps. CDS adalah kontrak keuangan yang digunakan untuk mengalihkan risiko kredit dari satu pihak ke pihak lain.
Rupiah Merosot Dekati Rp 16.000/USD
Ramdan Denny juga membeberkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini yang menjadi indikator perkembangan stabilitas nilai rupiah. "Pada akhir hari Kamis, 21 November 2024, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 15.920 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 6,90%. Sedangkan DXY (indeks dolar Amerika Serikat) menguat ke level 106,97, dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun turun ke level 4,422%," paparnya.
DXY ini menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). UST merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dengan tenor 1-10 tahun.
Baca Juga
Melonjak 18%, Pendapatan Harita Nickel (NCKL) Tembus Rp 20,38 Triliun
"Sedangkan pada Jumat, 22 November 2024, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 15.920 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun turun ke 6,88%," ujar Ramdan Denny.
Lelang SRBI
Di tengah menderasnya capital outflow ini, BI tercatat menaikkan suku bunga SRBI tembus hingga 7% lebih. Langkah BI ini sudah diisyaratkan Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya.
Dalam transaksi lelang SRBI yang dilakukan Bank Sentral Indonesia pada 22 November 2024, total dana yang berhasil disedot BI dalam sehari mencapai Rp 17,98 triliun. SRBI dengan suku bunga tertinggi 7,14%, untuk tenor 12 bulan, berhasil menyedot dana terbanyak Rp 16,09 triliun.
Berikutnya adalah SRBI bertenor 6 bulan dengan suku bunga 6,89% meraup Rp 0,97 triliun. Terakhir, yang bertenor 9 bulan dengan suku bunga 6,94% meraih Rp 0,92 triliun.
SRBI Tembus Rp 968,82 Triliun
Perry dalam pekan ini mengatakan, instrumen moneter pro-market akan terus dioptimalkan untuk mendukung penguatan stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi. "Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk mempercepat upaya pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta mendorong aliran masuk modal asing ke dalam negeri," tandasnya.
Ia menuturkan, hingga 18 November 2024, posisi instrumen SRBI, Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) masing-masing tercatat sebesar Rp 968,82 triliun, 3,39 miliar dolar AS, dan 387 juta dolar AS. Penerbitan SRBI, lanjut dia, telah mendukung upaya peningkatan aliran masuk portofolio asing ke dalam negeri dan penguatan nilai tukar rupiah.
"Kepemilikan non-resident dalam SRBI mencapai Rp 250,18 triliun (25,8% dari total outstanding). Implementasi Primary Dealer (PD) sejak Mei 2024 juga makin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar, sehingga memperkuat efektivitas instrumen moneter dalam stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi," sebutnya.
Ke depan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai inovasi instrumen pro-market, baik dari sisi volume maupun sisi daya tarik imbal hasil. Upaya ini, kata Perry, juga didukung kondisi fundamental ekonomi domestik yang kuat, untuk mendorong berlanjutnya aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan domestik.

