Yugi: Adopsi Filosofi Soedirman, Kedaulatan Maritim Perlu Berdayakan Masyarakat Pesisir
JAKARTA, investor.id – Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto mengungkapkan, menghadapi tantangan keamanan maritim saat ini, kita perlu menerapkan filosofi kepemimpinan Soedirman. Ketahanan maritim tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi dengan perubahan situasi global dan memberdayakan masyarakat pesisir untuk terlibat dalam menjaga keamanan wilayah mereka.
“Kedaulatan maritim Indonesia harus diwujudkan melalui kebijakan yang berkesinambungan. Hal ini mencakup penguatan angkatan laut, perlindungan sumber daya laut, serta peningkatan kerja sama internasional dalam menjaga keamanan laut,” kata Yugi dalam "2024 Round Table Discussion", yang digelar Yayasan Pangsar Soedirman di Yogyakarta, Jumat (8/11/2024).
Baca Juga
Strategi implementasinya harus melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat, dan sektor swasta. Pendidikan tentang pentingnya kedaulatan maritim juga harus menjadi bagian dari strategi ini, agar semua elemen masyarakat memiliki kesadaran akan tanggung jawab mereka.
Ia menjelaskan lebih lanjut, diskusi tersebut merupakan salah satu upaya untuk memperkuat dokumentasi perjuangan Panglima Besar Soedirman. Dokumentasi ini memiliki peran krusial dalam memelihara sejarah dan informasi yang berharga. Tanpa dokumentasi, banyak informasi dan peristiwa akan hilang atau terlupakan seiring berjalannya waktu.
Dalam konteks perjuangan Panglima Besar Soedirman, banyak aspek dari perjalanan hidupnya yang belum terabadikan secara baik. “Panglima Besar Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 dan meninggal pada 29 Januari 1950. Ia merupakan tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia antara tahun 1945 hingga 1950. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soedirman mengorganisasi tentara rakyat untuk melawan penjajah Belanda dan sekutu. Keberanian dan strategi gerilyanya menjadi contoh bagi banyak pejuang kemerdekaan,” paparnya.
Kepemimpinan Soedirman ini ditandai dengan ketahanan, kemampuan beradaptasi secara strategis, dan pemberdayaan bawahannya. Dalam konteks pertahanan maritim, prinsip-prinsip ini sangat relevan. Ketahanan dalam menghadapi ancaman eksternal adalah kunci untuk menjaga kedaulatan negara.
“Catatan sejarah memberikan informasi terhadap beberapa aspek perjuangan hidup Panglima Besar Soedirman. Namun, ada yang belum terabadikan secara baik, seperti keterlibatan awal dalam Pendidikan, peran dalam organisasi pemuda, negosiasi dengan Jepang, kepemimpinan di PETA atau Pembela Tanah Air, perjuangan melawan penyakit, hubungan dengan pemimpin lain, serta strategi perang gerilya,” urainya.
Prinsip Pertahanan dan Keamanan Maritim
Yugi mengatakan, prinsip pertahanan dan keamanan maritim dalam kepemimpinan Panglima Besar Soedirman dapat dilihat dari beberapa aspek yang mencerminkan filosofi dan strategi beliau dalam menghadapi tantangan keamanan. Ini baik di darat maupun di laut.
Prinsip tersebut mencakup 10 hal. Ini adalah ketahanan dan kemandirian, strategi gerilya, pemberdayaan angkatan laut, koordinasi antarlembaga, serta penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Selain itu, pendidikan dan pelatihan, adaptasi terhadap ancaman baru, diplomasi maritim, kepemimpinan yang inspiratif, serta visi jangka panjang untuk kedaulatan maritim.
Baca Juga
Kementerian Kelautan dan Perikanan Siapkan Regulasi Lanjutan Penghapusan Utang Macet UMKM Nelayan
Terkait sektor perikanan dan kelautan, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, yang merupakan peluang sekaligus tantangan berat. Dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan luas wilayah laut mencapai 5,8 juta km², Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang melimpah.
Peluangnya pentingnya ada lima. Ini adalah, pertama, Indonesia memiliki potensi lestari sumber daya ikan laut sebesar 6,5 juta ton per tahun. Namun, saat ini baru sekitar 5,12 juta ton yang ditangkap, yang menunjukkan adanya ruang untuk meningkatkan produksi secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.
Kedua, sektor budidaya perikanan menunjukkan pertumbuhan signifikan. Misalnya, produksi udang dan ikan lainnya terus meningkat, dengan udang mengalami pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar 14,03% dan ikan nila 19,03%. Ini membuka peluang bagi investasi dan pengembangan industri pengolahan.
Ketiga, kampanye Gerakan Makan Ikan (Gemarikan) berhasil meningkatkan konsumsi ikan dari 38,14 kg/kapita/tahun pada 2014 menjadi 43,94 kg/kapita/tahun pada 2016. Meningkatnya kesadaran akan pentingnya protein hewani dari ikan menciptakan permintaan yang lebih besar.
Keempat, permintaan global untuk produk perikanan diprediksi akan terus meningkat. Jadi, ada peluang besar untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Kelima, penggunaan teknologi modern dalam budidaya dan pengolahan dapat meningkatkan efisiensi produksi serta kualitas produk perikanan. Ini sekaligus mengatasi masalah lingkungan.
Sedangkan tantangan utamanya adalah overfishing dan illegal fishing. Selain itu, persaingan ketat dalam pasokan bahan baku, kualitas produk yang rendah, biaya logistik tinggi, perubahan iklim.
Sedangkan usulan langkah strategis ada lima, sebagai berikut:
1.Peningkatan Pengelolaan Sumber Daya Laut.
Implementasi kebijakan pengelolaan berkelanjutan untuk mencegah overfishing dan illegal fishing melalui penegakan hukum yang lebih ketat.
2.Investasi dalam Infrastruktur.
Membangun infrastruktur pelabuhan perikanan yang memadai untuk mendukung pengawasan dan distribusi hasil perikanan secara efisien.
3.Edukasi dan Pelatihan Nelayan.
Memberikan pelatihan kepada nelayan tentang praktik penangkapan berkelanjutan dan penerapan teknologi baru untuk meningkatkan hasil tangkapan.
4.Diversifikasi Produk Perikanan.
Mendorong diversifikasi produk agar tidak bergantung pada satu jenis komoditas tertentu, sehingga meningkatkan nilai tambah produk perikanan.
5.Kerja Sama Internasional.
Membangun kerjasama dengan negara lain untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global serta berbagi teknologi dalam pengelolaan sumber daya kelautan. (pd)

