Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama BI Pertahankan Suku Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencermati ketegangan yang terjadi di Timur Tengah. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, eskalasi di Timur Tengah membuat BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 6%.
“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mendorong mendorong meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Perry saat pengumuman Rapat Dewan Gubernur BI, di kantor BI, Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Perry mengatakan salah satu instrumen keuangan yang dicermati BI dalam mempertahankan suku bunga yaitu US Treasury Note untuk tenor 2 dan 10 tahun. Instrumen keuangan ini semula diperkirakan turun, namun justru berbalik arah. “Sekarang nggak turun, malah naik,” kata dia.
Baca Juga
Perry mengatakan US Treasury Note tenor 2 dan 10 tahun menjadi salah satu faktor yang dicermati, selain Fed Fund Rate (FFR). “Karena US Treasury Note tidak hanya dipengaruhi FFR, tapi juga kebijakan fiskal AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar dia.
Selain FFR dan US Treasury Note tenor 2 dan 10 tahun, BI juga mencermati menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang di dunia atau DXY. Perry mengatakan pada bulan lalu DXY sudah mencapai 101 dan mengarah ke 100.
“Begitu ada ketegangan di Timur Tengah menjadi 103 atau malah di atas 103,” ujar dia.
Perry menyebut tiga hal itu, proyeksi FFR, US Treasury Note 2 dan 10 tahun, serta DXY nantinya berpengaruh ke aliran portofolio ke berbagai dunia dan nilai tukar.
“Dengan memperhatikan inflasi, nilai tukar rupiah, dan pertumbuhan ekonomi, stance BI masih tetap. Ada kalimat ‘sabar yo!’ kata dia.

