LNPRT Tumbuh Paling Tinggi, Pertanda Dana Pilpres Sudah Deras Mengucur?
JAKARTA, investortrust.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, dari sisi pengeluaran produk domestik bruto (PDB), komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) tumbuh paling tinggi sebesar 6,21% pada kuartal III-2023 secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan definisi BPS, LNPRT merupakan lembaga nonprofit yang melayani anggotanya atau rumah tangga, serta tidak dikontrol oleh pemerintah. LNPRT adalah salah satu komponen dalam PDB pengeluaran yang kerap dikaitkan dengan rutinitas pemilihan presiden (pilpres) saat belanja pemilu meningkat.
Menurut Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, ekonomi Indonesia pada kuartal III-2023 terhadap kuartal III-2022 (yoy) tumbuh 4,94%.
“Dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan tumbuh paling tinggi sebesar 14,74%. Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen PK-LNPRT tumbuh tertinggi sebesar 6,21%,” kata Amalia di Jakarta, Senin (06/11/2023).
Amalia menjelaskan, ekonomi Indonesia pada kuartal III-2023 terhadap kuartal sebelumnya (quarter to quarter/q to q) tumbuh 1,60%. Dari sisi produksi, lapangan usaha konstruksi tumbuh paling tinggi sebesar 5,87%.
“Adapun dari sisi pengeluaran, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh tertinggi sebesar 7,70,” tutur dia.
Sampai kuartal III -2023, kata Amalia, ekonomi Indonesia selama tahun kalender (c to c) tumbuh 5,05%. Dari sisi produksi, pertumbuhan terbesar terjadi pada lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 15,30%.
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terbesar terjadi pada komponen PK-LNPRT sebesar 7,01%,” ucap dia.
Ekonomi Seluruh Provinsi Melambat
Amalia menambahkan, secara spasial, perekonomian Indonesia pada kuartal III-2023 di hampir seluruh provinsi tumbuh melambat (yoy). Kelompok provinsi di Pulau Jawa menjadi penyumbang perekonomian terbesar dengan kontribusi 57,12% dan laju pertumbuhan ekonomi 4,83% (yoy).
Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Teuku Riefky dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id, akhir pekan lalu, mengemukakan, berdasarkan data historis PDB 2010-2020 yang mencakup Pemilu 2014 dan Pemilu 2019, pertumbuhan konsumsi LNPRT secara konsisten mencapai puncaknya pada tahun-tahun pemilu.
"Peningkatan tersebut dipicu kenaikan belanja parpol untuk kampanye sepanjang tahun pemilu dibandingkan tahun-tahun nonpemilu," ujar dia.
Namun, menurut Riefky, lonjakan konsumsi itu hanya bersifat sementara. Konsumsi kemudian turun signifikan setelah pemilu. "Selain itu, rata-rata kontribusi konsumsi LNPRT terhadap perekonomian secara keseluruhan relatif terbatas, hanya menyumbang 2% dari total PDB pada 2022," tandas dia.
Riefky memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2023 dan 2024 masing-masing mencapai 5,0-5,1%. Angka itu lebih rendah dari asumsi APBN 2023 dan APBN 2024 yang masing-masing dipatok masing-masing 5,3% dan 5,2%. (CR-1)

