BI Isyaratkan Bunga SRBI Bisa Naik, Asing Lanjut Net Sell Saham Rp 0,076 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan masih bisa menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meski kini sudah tinggi mencapai hingga 7,43%. Seiring dengan itu, aliran dana asing tercatat keluar dari pasar saham domestik pada Rabu (17/7/2024), dengan net sell Rp 0,076 triliun. Hal ini melanjutkan penjualan bersih Rp 0,53 triliun yang terjadi kemarin di Bursa Efek Indonesia.
Hal itu menggerus pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) month to date menjadi Rp 3,71 triliun. Secara year to date, asing mencatatkan net sell saham Rp 4,02 triliun berdasarkan keterangan BEI, yang mendorong indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah 0,67%. Padahal, indeks harga saham bursa tetangga di ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina masing-masing melambung 13,49%, 12,30%, 7,69%, dan3,68% ytd.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter pro-market. Instrumen ini yaitu SRBI, Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
“Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk mempercepat upaya pendalaman pasar uang dan mendukung aliran masuk modal asing ke dalam negeri. Hingga 15 Juli 2024, posisi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI masing-masing tercatat sebesar Rp 775,45 triliun, 1,82 miliar dolar AS, dan 267 juta dolar AS,” kata Perry di Jakarta, Rabu ini.
Baca Juga
Perry mengatakan, penerbitan SRBI telah mendukung aliran masuk portofolio asing ke dalam negeri. Hal ini tecermin dari kepemilikan nonresiden yang mencapai Rp 220,35 triliun atau 28,42% dari total outstanding.
“Implementasi Primary Dealer (PD) sejak Mei 2024 memperkuat efektivitas SRBI sebagai instrumen moneter dalam mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai inovasi instrumen pro-market baik dari sisi volume maupun daya tarik imbal hasil, untuk mendorong berlanjutnya aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan domestik. Hal ini juga didukung kondisi fundamental ekonomi domestik yang kuat,” ujarnya.
Ia mengatakan, suku bunga SRBI -- tenor 6, 9, dan 12 bulan yang per 12 Juli 2024 masing-masing sebesar 7,30%, 7,39%, dan 7,43% -- itu sejalan dengan lebih tingginya yield US Treasury jangka pendek dibandingkan dengan tenor jangka panjang. Imbal hasil SBN, lanjut dia, juga stabil.
“Imbal hasil SBN tenor 2 dan 10 tahun relatif stabil, di tengah yield US Treasury dan premi risiko pasar keuangan global yang masih tinggi. Per 16 Juli 2024, masing-masing sebesar 6,68% dan 6,95%,” ucapnya.
Sementara itu, menurut Perry, likuiditas perbankan tetap terjaga sejalan dengan tambahan insentif likuiditas kebijakan makroprudensial (KLM), ekspansi operasi moneter, dan aliran masuk portofolio asing, di samping tingginya kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK). Hal ini berdampak pada suku bunga perbankan yang tetap terjaga.
“Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Juni 2024 tercatat masing-masing sebesar 4,63% dan 9,25%. Ini relatif stabil dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya,” imbuhnya.
Sebelumnya, ekonom dan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, likuiditas semakin ketat karena ada instrumen lain yang menarik likuiditas dari pasar, yang namanya SRBI. Chatib mengatakan, kemunculan SRBI akan membuat crowding out di pasar keuangan, karena sebagian besar dana milik investor diserap SRBI.
Mtd, Net Buy SBN Rp 4,59 T
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) terbaru merilis data transaksi SBN pada Senin lalu. Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melakukan beli neto Rp 0,09 triliun.
Secara month to date, asing mencatatkan pembelian bersih Rp 4,59 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga Senin. Namun, secara year to date asing mencatatkan penjualan bersih Rp 29,36 triliun hingga Senin lalu.
| Perkembangan transaksi neto oleh asing di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, hingga 15 Juli 2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust.id. |

