Cerah! Gubernur BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi RI Lebih Baik dari Prediksi
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2024 akan mencapai 4,7-5,5%, lebih baik dari prediksi sejumlah pihak. Banyak faktor akan mendukung baik dari global maupun di dalam negeri.
“Proyeksi pertumbuhan di kuartal II-2024 akan lebih tinggi dari 5%. Hal ini didukung konsumsi rumah tangga, khususnya berkaitan dengan pengeluaran masyarakat selama momentum Idulfitri,” kata Perry dalam taklimat media di Kantor BI, Thamrin, Jakarta, Rabu (8/5/2024).
Keberlanjutan pembangunan infrastuktur baik dari pemerintah dan swasta turut menjadi faktor pendukung pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2024. Ini utamanya yang berkaitan dengan proyek strategis nasional (PSN)
Baca Juga
Perry: Kenaikan BI Rate Dorong Dana Asing Kembali Masuk Rp 22,84 Triliun
Optimisme Perry ini turut didukung data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal I-2024 yang menunjukkan pertumbuhan bagus di sejumlah wilayah. Di antaranya di Kalimantan tumbuh 6,17%, Sulawesi-Maluku-Papua 7,97%, dan Bali-Nusra 5,07%.
Bila semula prediksi BI pada kuartal I-2024 tumbuh 5,08%, ternyata realisasinya mencapai 5,11%. “Pertumbuhan ekonomi secara kewilayahan itu terjadi baik di berbagai daerah. Sektor- sektor yang mendukung terjadinya pertumbuhan ekonomi antara lain pertambangan, konstruksi, perdagangan, dan akomodasi, yang mengalami pertumbuhan positif," ucap Perry.
Gejolak Ekonomi Dunia akan Mereda
Dari global, gejolak ekonomi dunia akan mereda. Indeks dolar semula naik hingga mencapai 106,3 dan diperkirakan tren terus menguat ke 107.
Namun seiring perkembangan meredanya tensi geopolitik, indeks dolar kembali melemah. Per 7 Mei 2024, indeks dolar turun menjadi 105,4.
| Selisih FFR dan BI rate. Infografis: Riset Investortrust |
FFR Turun Desember
Perry Warjiyo memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, akan menurunkan suku bunganya atau Fed Funds Rate (FFR) pada Desember 2024. Dalam sepekan terakhir, yield T-Bond tenor 2 tahun sudah turun dari 4,952% ke 4,839%, dan tenor 10 tahun turun dari 4,618 % ke 4,477%.
Perry Warjiyo memperkirakan Federal Reserve (The Fed) hanya akan menurunkan suku bunga sebanyak satu kali tahun ini. "Sebelumnya, FFR akan diturunkan di semester 2 sebanyak 4 kali, lalu 3 kali. Kemudian, sebelum kami RDG (rapat dewan gubernur) kemarin 2 kali, dan waktu RDG terakhir paling banter hanya sekali tahun ini, bahkan (mungkin) tidak turun," kata Perry, di Jakarta, Rabu (8/5/2024).
Sebelumnya, beberapa pejabat The Fed bahkan bersikap hawkish, sehingga BI mencatat ada potensi risiko. Saat itu, mereka memberikan sinyal bahwa FFR tidak akan diturunkan tahun ini dan diperkirakan The Fed baru akan menurunkan bunga tahun depan, sebanyak dua kali.
"Resiko itu yang kami address agar tidak terjadi dan bisa kembali pada baseline rate. Namun, saat ini, arahnya berbalik," katanya.
Bank sentral di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu menjadi less hawkish, meski belum dovish. BI pun melihat potential risk tidak terjadi dan sudah mengarah pada baseline.
"Kami masih pegang (penurunan bunga) di Desember. Tapi kaya-kayanya kalau ini terjadi, kemungkinan risk-nya tidak terjadi. Jadi mungkin FFR turun sekali di Desember," tandas Perry.
Stabilitas Ekonomi RI Makin Baik
Gubernur BI juga memaparkan, stabilitas ekonomi Indonesia juga semakin baik. Kondisi ekonomi yang dia maksud adalah nilai tukar rupiah, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I lalu.
Baca Juga
“Penguatan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terjadi lebih cepat dari perkiraan BI. Selain itu, inflasi juga terkendali dalam rentang target 2,5% plus minus 1%, dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I mencapai 5,11% atau melebihi ekspektasi BI,” ucapnya.
Rupiah Menguat Menuju Rp 15.000/USD
Rupiah diperkirakan juga bakal menguat menuju Rp 15.000 per dolar AS. Perry optimistis upaya BI untuk menekan nilai tukar rupiah di bawah Rp 16.000/USD dapat tercapai.
Perry menjelaskan, saat ini nilai tukar rupiah dapat ditekan di rentang Rp 16.000/USD - Rp 16.100/USD. Sebelum keputusan menaikkan BI Rate, nilai tukar mata uang Garuda berada di kisaran Rp 16.300/USD.
"Kami percaya rupiah akan terus menguat sesuai fundamental yang kuat. Kami optimistis upaya BI untuk mendorong nilai tukar rupiah di bawah Rp 16.000/USD dapat tercapai, seiring kondisi pasar uang valas maupun perkembangan makroekonomi membaik," kata Perry.
Inflasi Terkendali
Seiring penguatan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi lebih cepat dari perkiraan BI, inflasi di dalam negeri terkendali dalam rentang target 2,5% plus minus 1%.
Pada April 2024, inflasi secara tahunan sebesar 3,00% (yoy). Sedangkan tingkat inflasi month to month (mtm) sebesar 0,25%. Inflasi bulanan ini turun drastis 0,27 persen poin dari sebelumnya pada Maret lalu 0,52% mtm.
BI juga menilai inflasi inti tetap terjaga. Inflasi inti pada April 2024 tercatat sebesar 0,29% mtm, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 0,23% (mtm).
Cadangan Devisa akan Kembali Naik
Perry optimistis cadangan devisa Indonesia akan kembali naik. Bank Indonesia mencatat, posisi cadangan devisa RI pada akhir April 2024 sebesar USD 136,2 miliar, turun 3% dibandingkan pada Maret 2024 sebesar USD 140,4 miliar.
Optimisme tersebut didasari perkembangan pasar valas, kondisi makroekonomi, hingga situasi global. Terlebih ada tren membaiknya aliran masuk dana asing usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 23-24 April 2024 menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%.
Ia mengungkapkan dalam dua pekan awal bulan Mei 2024 Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatatkan inflow aliran masuk modal asing sebanyak Rp 19,77 triliun. Kemudian Surat Berharga Nasional (SBN) juga tercatat menerima inflow sebesar Rp 8,1 triliun.
"Ini membuktikan investor menyambut baik kenaikan BI rate dan SRBI. Perkembangannya lebih baik," kata Perry.
Aliran masuk modal asing tersebut diungkap Perry turut berdampak terhadap kepercayaan pelaku pasar pada nilai tukar rupiah. Hal ini membuat nilai tukar rupiah cenderung menguat, usai BI Rate diputuskan ditingkatkan 25 bps.
Disebut Perry, saat BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan, rupiah berada di kisaran Rp 16.300/USD. Sementara per Rabu (8/5/2024) hari ini, rupiah berada di level Rp 16.081/USD berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).
"Kami percaya rupiah akan terus menguat sesaui fundamental ekonomi," sebut Perry.
Pertumbuhan Kredit Tahun Ini 11-12%
Perry mengatakan, pertumbuhan kredit tahun ini akan mencapai 11-12%. Perbankan juga tidak perlu menaikkan suku bunga kredit atau pinjaman, meski suku bunga acuan atau BI Rate naik 25 bps menjadi 6,25% pada April lalu.
"Bagi bank tidak ada keperluan untuk menaikkan suku bunga kredit. Itu kan kami sudah takar, kami melihat tidak ada keperluan untuk menaikkan suku bunga kredit, karena likuiditasnya kita tambahkan," ujar Perry dalam media briefing di Gedung Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (8/5).
Likuiditas Bertambah Rp 81 Triliun Juni
Perry menjelaskan lebih lanjut, meski BI Rate naik, di sisi yang lain, pihaknya akan menambah dan memperluas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Ada perluasan cakupan sektor prioritas KLM dengan menambahkan sektor penunjang hilirisasi, konstruksi dan real estate produktif, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, listrik, gas, dan air bersih (LGA), jasa sosial, serta penyesuaian besaran insentif untuk setiap sektor yang berlaku mulai 1 Juni 2024.
Likuiditas diperkirakan bertambah Rp 81 triliun Juni ini.
Kerja Sama Thamrin-Banteng Solid
Perry juga menegaskan, kerja sama Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi tetap solid. Kerja sama juga dilakukan dalam menjaga inflasi tetap terkendali.
“Kita akan tetap mendukung untuk berbagai langkah menjaga inflasi nasional dan stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi,” tandas Perry.
BI Rate Tidak Dinaikkan Lagi
Perry mengatakan lebih lanjut, BI memutuskan BI Rate tidak akan dinaikkan lagi tahun ini. BI Rate diperkirakan akan dipertahankan pada level 6,25%.
"Dengan data yang sekarang, kami melihat kenaikan BI Rate dan SRBI itu cukup untuk memastikan stabilitas nilai tukar dan memastikan inflow serta inflasi. Kenaikan BI rate dan SRBI pekan lalu sudah cukup," kata Perry.
Meski demikian, Perry mengatakan dirinya tak mau mendahului hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur BI yang akan dilakukan bulan ini. Dia mengatakan, BI akan terus memantau perkembangan data terkait nilai tukar, inflasi dan perekonomian.
"Hasilnya tunggu nanti RDG bulanan. Semuanya tetap data dependent," kata dia.

