Pefindo Prediksi Pertumbuhan Ekonomi di 2024 di Kisaran 4,8%-5,2%
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh pada rentang 4,8%-5,2% di tahun 2024. Prediksi pertumbuhan ini sejalan dengan angka yang dilansir beberapa lembaga seperti IMF, World Bank, dan Bloomberg Conscensus.
“Kami melihat pada tahun 2024 bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh pada rentang 4,8% hingga 5,2%. Angka ini sejalan dengan proyeksi beberapa lembaga seperti IMF, World Bank, dan Bloomberg Conscensus, Di mana masing-masing memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi aka berada di kisaran 5%,” ujar Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto pada Pefindo Media Forum 2023 melalui Zoom meeting, Senin (11/12/2023).
Baca Juga
Indef Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024 sebesar 4,8%
Lebih lanjut, Suhindarto menjelaskan bahwa menurut Pefindo, target perkiraan inflasi Indonesia ada di rentang 2,0%-3,5%, yang menurutnya masih dalam rentang target inflasi yang ditetapkan pemerintah.
“Inflasi masih akan terjaga di angka 2% hingga 3,5%, dan ini berada dalam rentang target yang ditetapkan pemerintah yaitu di angka 2,5 plus minus 1%,” tegasnya.
Dalam paparannya, Suhindarto juga menegaskan bahwa terdapat beberapa faktor pendorong yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi akan ada di angka 4,8%-5,2%. Salah satunya adalah dengan adanya pemilu serentak.
Baca Juga
“Dengan adanya pemilu serentak, kami memperkirakan komsumsi rumah tangga masih akan terjaga seiring dengan ekonomi masyarakat yang meningkat, khususnya didorong aktivitas kampanye,” ungkapnya.
Selain itu, terdapat beberapa faKtor pendukung lain seperti inflasi yang terkendali (dalam rentang target), ekspansi terhadap suku bunga dalam negeri yang diturunkan sehingga memacu aktivitas ekonomi terakselerasi, sektor pariwisata yang pulih (tahun 2023 pulih sehingga mendapatkan 7 juta kunjungan, dan target pemerintah tahun 2024 adalah 11,5 juta kunjungan), akselerasi Pembangunan di akhir periode pemerintahan sehingga menyebabkan multiplier effect, pelaku bisnis yang sudah menurunkan kecenderungan wait and see, serta ekonomi negara mitra dagang Indonesia seperti China yang mulai pulih sehingga dapat meningkatkan aktivitas ekspor Indonesia.
Di sisi lain, terdapat faktor risiko yang masih perlu diwaspadai seperti permasalahan geopolitik yang menyebabkan volatilitas, seperti potensi stagnansi pertumbuhan ekonomi global, inflasi global masih di level yang tinggi meskipun telah menurun, harga komoditas yang terpengaruhi oleh permasalahan geopolitik, dan potensi arus modal keluar yang didorong oleh suku bunga yang tinggi sehingga menyebabkan tekanan pada nilai tukar. (CR-4).
