Menko Airlangga: Indonesia Harus Kejar Ketertinggalan dari India dan Vietnam
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut Indonesia perlu mengejar ketertinggalan di sektor manufaktur. Langkah ini diperlukan mengingat dua pesaing Indonesia, yaitu India dan Vietnam sudah mampu menggarap sektor ini dengan baik.
Menurut Airlangga, India dan Vietnam tidak lagi mengembangkan level industri manufaktur dengan baik. Dua negara itu bahkan telah mengembangkan digitalisasi dan jasa di level industrinya.
“Vietnam sudah ke sana. India juga sudah di sana. Maka kita yang belum, naik dari level 2 ke level 3. Kalau itu kita bisa lakukan, maka pertumbuhan 8%, itu bisa dicapai,” kata Airlangga saat menjadi pembicara di Big Downstream Insights 2026, yang digelar Selasa (6/10/2026).
Airlangga mengatakan Indonesia membutuhkan setidaknya US$ 618 miliar untuk investasi terhadap hilirisasi 28 komoditas. Dengan nilai investasi, dia memproyeksikan ekspor Indonesia dapat meningkat menjadi US$ 857 miliar dan nilai tambah yang dihasilkan sebesar US$ 235,9 miliar.
“Sebagai tambahan, ekspor kita mendekati US$ 500 miliar, jadi sebetulnya kalau hilirisasi ini nambah, maka ekspor kita bisa double dari angka tersebut,” kata dia.
Saat ini, kata Airlangga, hilirisasi industri yang dilakukan Vietnam telah mampu menggandakan komoditas ekspornya. Dengan kemampuan ini, pertumbuhan ekonomi Vietnam bergerak masif. Pada kuartal III-2026 saja, pertumbuhan ekonomi Vietnam meroket ke angka 9,95% secara tahunan.
Baca Juga
Menko Airlangga Pertanyakan Keputusan Pemeringkat Kredit tentang Batasan Debt to GDP Ratio Indonesia
Airlangga mengatakan bahwa Vietnam telah mengerjakan banyak hal yang ditargetkan Indonesia. Salah satunya pengembangan kawasan ekonomi khusus. Saat ini, kawasan ekonomi khusus yang dimiliki Indonesia baru mencapai 24.000 hektare, lebih rendah dibandingkan milik Vietnam yang sudah menyentuh 2 juta hektare.
Selain itu, Vietnam juga telah mengembangkan digitalisasi dan semikonduktor. Sebagai penyangga, Vietnam telah memiliki sejumlah perjanjian dagang dengan Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang lebih baik dari Indonesia.
“Jadi, inilah yang mendorong Vietnam, ekspornya lebih cepat dari kita,” ujar dia.
Pentingnya Domestic Market
Meski begitu, Airlangga menyebut bahwa ada satu hal yang tak dimiliki Vietnam, namun ada di Tanah Air. “Mereka tidak punya domestic market. Jadi mereka yang menanam investasi di Vietnam itu harus mendorong untuk menuju ekspor,” ucap dia.
Dengan nada optimis, Airlangga mengatakan bahwa pemerintah akan fokus untuk mengambil langkah-langkah strategis di bidang industri ke depan. Strategi yang digaungkan yaitu menjaga tingkat kompetitif produk dan pasar di dalam negeri. Dengan begitu, produsen dapat sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Airlangga menjelaskan Indonesia akan menjaga mata rantai bahan baku energi. Dia menyebut bahwa Indonesia memiliki kapasitas energi hijau dengan kapasitas produksi mendekati 11 gigawatt.
Selain itu, Indonesia juga memiliki sejumlah potensi untuk pengembangan data center. Airlangga mengatakan tiga syarat investasi data center di Indonesia telah terpenuhi di antaranya, ketersediaan lahan, listrik, dan air.
“Indonesia dilihat memenuhi persyaratan tersebut, maka kawasan ekonomi khusus yang digital di Bintan, sudah dalam ‘sold out’. Kemudian di wilayah Bekasi-Karawang, yang dekat dengan domestic market juga direncanakan kapasitas sekitar 600-700 megawatt per hari secara nasional itu bisa mendapat tambahan sekitar 500 megawatt dalam 2-3 tahun ke depan,” ujar dia.
Meski demikian, Airlangga menyadari pengembangan di sektor industri teknologi tinggi juga membutuhkan kemampuan sumber daya manusia alias SDM yang mumpuni. Untuk itu, pemerintah mendorong program magang untuk kerja dan vokasi sekaligus menggandeng perusahaan besar di bidang semikonduktor asal Inggris, Arm.
“Untuk mendorong desain semikonduktor sekaligus chips. Ditargetkan 15.000 AI ataupun semiconductor literate dalam tiga tahun ke depan,” ucap dia.
