Aida S Budiman: Sinergi BI-APBN Penting untuk Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menginginkan kolaborasi antara otoritas fiskal dan moneter. Untuk itu, dia mendorong sinergi erat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan bank moneter.
“Perlu dilakukan sinergi dengan otoritas moneter supaya otoritas moneter bisa memahami dan melakukan respons kebijakan yang pas dengan asumsi (makro APBN),” kata Aida, saat fit and proper test di Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga
Aida S Budiman Jadi Calon Deputi Gubernur Senior BI Pilihan Prabowo
Aida menjelaskan sinergi tersebut meliputi rencana penerbitan surat utang yang dilakukan pemerintah. “Termasuk, penerbitan SBN (surat berharga negara), global bond, karena ini akan memengaruhi likuiditas valas dan rupiah,” ujar dia.
Aida menjelaskan otoritas moneter dan fiskal terkadang mempunyai kebijakan berbeda. Namun, yang penting adalah tujuannya sama, yaitu menuju stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Suatu saat, fiskalnya harus konsolidasi, moneternya bisa melakukan ekspansi. Yang penting di sini adalah bagaimana membangun persepsi atau narasi positif dari kebijakan yang dilakukan,” ujar dia.
Dengan memperkuat sinergi ini, pasar dan pelaku ekonomi dapat memahami apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Ketika pasar dan pelaku ekonomi memahami, mereka akan meminjamkan kepercayaan tersebut dengan mengalirkan modal. “Sehingga menjadi modal kita untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ucap dia.
Baca Juga
Mengarungi Badai Moneter 2026: Refleksi 8 Bulan Perjalanan Rupiah
Pada awal paparannya, Aida menjelaskan target pemerintah untuk menjadi negara maju perlu diikuti pengembangan industri. Namun, untuk menjadi negara industri perlu peningkatan produktivitas, pembiayaan, dan tenaga kerja yang berkualitas. “Inilah yang menjadi tantangan di Indonesia sehingga waktu menjadi esensial bagi semuanya,” ujar dia.
Untuk menjadi negara maju, kata Aida, perlu dipastikan pertumbuhan ekonomi yang super optimistis. Sebab, Indonesia perlu pertumbuhan ekonomi di atas 7%.
“Kita juga memiliki pekerjaan rumah, karena bonus demografi kita akan tertutup pada 2041. Pekerjaan rumah lainnya, yaitu tenaga kerja kita harus ditingkatkan skill-nya,” ucap dia.
