Dalam Tujuh Bulan, Cadangan Devisa Turun US$ 11,2 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Cadangan devisa Indonesia terus mengalami tekanan sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Posisi cadangan devisa yang pada akhir Desember 2025 masih sekitar US$156,5 miliar, turun menjadi US$145,3 miliar pada Juli 2026. Artinya, dalam tujuh bulan, cadangan devisa Indonesia menyusut sekitar US$11,2 miliar.
Perkembangan tersebut diungkap dalam laporan Regular Economic Update: Laporan Cadangan Devisa Juli 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department, dan diterbitkan di Jakarta, Kamis (13/08/2026). Laporan itu menggunakan antara lain data Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEI), CEIC, Bloomberg, serta indikator pasar global lainnya.
Secara bulanan, cadangan devisa pada Juli 2026 turun US$0,3 miliar, dari US$145,6 miliar pada Juni menjadi US$145,3 miliar. Penurunan terjadi setelah pada Juni posisi cadangan devisa sempat meningkat tipis. Menurut BRI, perkembangan tersebut mencerminkan kombinasi antara masuknya penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah di satu sisi, dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan stabilisasi rupiah di sisi lain.
Tekanan terbesar berasal dari komponen valuta asing. BRI mencatat komponen valas cadangan devisa turun sekitar US$0,4 miliar menjadi US$124,6 miliar pada Juli 2026, dari sekitar US$125,0 miliar pada Juni. Penurunan tersebut mengindikasikan likuiditas valuta asing masih digunakan untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Baca Juga
Cadangan Devisa Turun Jadi US$ 145,3 Miliar per Akhir Juli 2026, Ini Penyebabnya
Tren penurunan terlihat jelas sejak memasuki 2026. Berdasarkan data yang dihimpun BRI, posisi cadangan devisa bergerak dari sekitar US$156,5 miliar pada Desember 2025, turun menjadi US$151,9 miliar pada Januari 2026, US$148,2 miliar pada Februari, US$146,2 miliar pada Maret, lalu sekitar US$144,9 miliar pada April. Pada Mei posisi cadangan devisa membaik menjadi sekitar US$145,6 miliar, kemudian relatif stabil pada Juni sebelum kembali turun menjadi US$145,3 miliar pada Juli.
Dengan demikian, tekanan terbesar terjadi terutama pada empat bulan pertama 2026 ketika ketidakpastian global meningkat tajam. BRI mencatat bahwa Bank Indonesia bahkan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026, setelah cadangan devisa turun sekitar US$10,3 miliar sejak Januari hingga April 2026.
Dalam perkembangan selanjutnya BI kembali menaikkan suku bunga, sehingga BI-Rate berada di level 5,75% pada Juli 2026. Namun, BRI menilai penurunan cadangan devisa pada Juli yang hanya US$0,3 miliar belum cukup besar untuk langsung memicu kenaikan bunga lanjutan pada Rapat Dewan Gubernur BI 18–19 Agustus 2026.
Defisit Perdagangan Kurangi Pasokan Devisa
Salah satu penyebab terbatasnya akumulasi cadangan devisa adalah memburuknya pasokan valuta asing dari perdagangan eksternal. BRI mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut. Pada Juni 2026, defisit perdagangan mencapai sekitar US$0,45 miliar, memang membaik dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada Mei, tetapi tetap berarti tidak ada tambahan surplus devisa seperti yang biasanya diperoleh ketika neraca perdagangan positif.
Situasi ini penting karena surplus perdagangan merupakan salah satu sumber utama pasokan dolar AS ke perekonomian domestik. Ketika neraca perdagangan berubah defisit, tambahan devisa dari ekspor tidak lagi cukup mengimbangi kebutuhan pembayaran impor.
Tekanan bahkan lebih jelas jika melihat perkembangan pada kuartal II-2026. Berdasarkan analisis BRI terhadap data BPS, neraca perdagangan berbalik dari surplus sekitar US$5,55 miliar pada kuartal I-2026 menjadi defisit US$1,97 miliar pada kuartal II. Salah satu penyebabnya adalah pelebaran defisit perdagangan migas akibat mahalnya minyak global dan terganggunya pasokan energi.
Arus Modal Masuk Belum Cukup Kuat
Tekanan juga datang dari pasar keuangan global. Ketidakpastian geopolitik membuat investor internasional tetap berhati-hati terhadap aset negara berkembang.
Secara global, BRI mencatat investor nonresiden melakukan net portfolio outflow sekitar US$18,3 miliar dari emerging markets pada Juli 2026, melanjutkan tren arus keluar selama tiga bulan berturut-turut. Kondisi itu terjadi ketika aset dolar AS kembali diminati sebagai safe haven.
Indeks dolar AS pada 7 Agustus 2026 berada di sekitar 99,54, naik 1,24% dibandingkan akhir 2025. Sementara yield US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,65%, jauh di atas 4,17% pada akhir Desember 2025. Kombinasi dolar yang kuat dan imbal hasil obligasi AS yang tinggi membuat aset emerging markets menghadapi persaingan ketat dalam menarik dana internasional.
Indonesia masih mencatat arus modal masuk bersih sekitar Rp1,9 triliun pada Juli 2026. Komposisinya terdiri atas sekitar Rp6,4 triliun inflow ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp1,6 triliun ke pasar saham, tetapi pada saat yang sama terjadi outflow sekitar Rp6,1 triliun dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
BRI menilai arus masuk tersebut membantu menambah pasokan valas domestik, tetapi belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan pembayaran kewajiban eksternal dan operasi stabilisasi nilai tukar.
Rupiah Tertekan 7,19% Sejak Awal Tahun
Tekanan pada cadangan devisa berjalan beriringan dengan pelemahan rupiah. Berdasarkan data BRI, hingga 7 Agustus 2026 rupiah telah melemah sekitar 7,19% sejak akhir 2025 terhadap dolar AS. Angka tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang emerging market yang mengalami depresiasi terbesar, setelah lira Turki yang melemah sekitar 9,95%.
Namun, tekanan mulai sedikit mereda memasuki Agustus. Pada 12 Agustus 2026, rupiah berada di sekitar Rp17.875 per dolar AS, menguat sekitar 0,31% secara mingguan dan 1,0% secara bulanan.
Penguatan tersebut menjadi salah satu alasan BRI memperkirakan BI memiliki ruang untuk menahan suku bunga pada pertemuan Agustus, sepanjang tidak muncul lonjakan baru volatilitas global atau tekanan permintaan valas domestik.
Hormuz dan Perang Iran Masih Membayangi
Faktor eksternal terbesar tetap berasal dari konflik geopolitik Timur Tengah, khususnya ketidakpastian di Selat Hormuz.
Laporan BRI mencatat indeks risiko geopolitik global sempat melonjak hingga 369,41 pada 7 Maret 2026, tidak lama setelah eskalasi perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Hingga 7 Agustus, indeks tersebut memang turun menjadi sekitar 187,54, tetapi masih jauh di atas rata-rata sebelum perang.
Perbaikan sentimen muncul setelah adanya kesepakatan awal Iran dan Oman mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz. Namun, risiko belum hilang karena Iran tetap melarang kapal milik Amerika Serikat dan Israel melintasi jalur tersebut.
Ketidakpastian di Hormuz penting bagi Indonesia karena gangguan pasokan minyak dunia mendorong harga energi naik, memperbesar kebutuhan impor migas, dan pada akhirnya meningkatkan kebutuhan dolar AS. Jika tekanan itu berlanjut, cadangan devisa kembali berpotensi digunakan untuk menahan volatilitas rupiah.
Utang LN Jadi Sumber Kebutuhan Valas
BRI juga mengingatkan tekanan terhadap cadangan devisa dapat datang dari pembayaran utang luar negeri. Posisi utang luar negeri Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$444,4 miliar, naik sekitar 2,1% yoy, dari US$440,2 miliar pada April.
Pada bulan yang sama, pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri meningkat menjadi sekitar US$2,5 miliar, dari US$1,2 miliar pada April. Sebagian besar kenaikan berasal dari pembayaran pokok utang.
Semakin besar kewajiban pokok dan bunga dalam mata uang asing, semakin tinggi kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Situasi ini bukan hanya berpengaruh pada cadangan devisa dan rupiah, tetapi juga perlu diperhatikan perbankan, khususnya terhadap debitur yang memiliki utang dalam dolar AS tetapi memperoleh pendapatan dalam rupiah. Pelemahan kurs dapat meningkatkan risiko currency mismatch serta tekanan terhadap kualitas kredit.
Masih Aman, tetapi Bantalan Menipis
Meskipun telah menyusut US$11,2 miliar dalam tujuh bulan, BRI menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih memadai. Cadangan devisa sebesar US$145,3 miliar pada Juli 2026 masih setara dengan sekitar 5,5 bulan kebutuhan impor, atau sekitar 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Baca Juga
Program Biodiesel Hemat Devisa Rp 722,9 Triliun dalam Satu Dekade
Level tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Artinya, Indonesia masih memiliki bantalan eksternal yang cukup untuk menghadapi gejolak global dan memenuhi kebutuhan pembayaran internasional.
Namun, arah pergerakannya perlu dicermati. Penurunan dari US$156,5 miliar menjadi US$145,3 miliar berarti sekitar 7,2% cadangan devisa telah tergerus hanya dalam tujuh bulan. Pada saat bersamaan, neraca perdagangan melemah, rupiah masih lebih rendah dibandingkan awal tahun, pembayaran utang luar negeri meningkat, dan ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda.
BRI menunjukkan secara historis Bank Indonesia cenderung mengambil langkah pengetatan ketika penurunan cadangan devisa berlangsung cukup dalam. Pada 2018, BI menaikkan suku bunga setelah cadangan devisa turun sekitar US$7,1 miliar. Pada 2022, kenaikan BI-Rate dilakukan setelah cadangan devisa menyusut sekitar US$14,7 miliar. Pola serupa kembali terlihat pada Mei 2026 setelah penurunan sekitar US$10,3 miliar dalam empat bulan.
Karena itu, besarnya cadangan devisa bukan satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan. Arah perubahannya sama pentingnya. Indonesia memang masih memiliki cadangan yang jauh di atas batas aman, tetapi penurunan US$11,2 miliar sejak awal tahun menunjukkan biaya menjaga stabilitas eksternal meningkat di tengah perang, dolar AS yang kuat, kebutuhan impor energi, pembayaran utang, dan volatilitas arus modal.
Jika neraca perdagangan kembali surplus, arus modal asing menguat, dan rupiah stabil, tekanan terhadap cadangan devisa dapat mereda. Sebaliknya, apabila konflik di Selat Hormuz kembali meningkat, harga minyak melonjak, atau investor global kembali meninggalkan emerging markets, kebutuhan intervensi valuta asing dapat kembali membesar.

