Dompet Makin Terjepit, Porsi Menabung Masyarakat Kian Susut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Porsi pendapatan masyarakat yang ditabung semakin menurun pada Juni 2026. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (SKBI), penurunan terutama terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 2,1-3 juta dan Rp 4,1-5 juta.
BI mencatat, porsi tabungan pada kelompok pengeluaran Rp2,1 juta-Rp3 juta mencapai 15,6% dari pendapatan. Sementara itu, porsi pendapatan yang ditabung kelompok pengeluaran Rp4,1 juta-Rp5 juta sebesar 16,9%. Penurunan porsi tabungan tersebut sejalan dengan meningkatnya proporsi konsumsi terhadap total pendapatan masyarakat.
Data BI menunjukkan proporsi konsumsi kelompok pengeluaran Rp 2,1-3 juta meningkat menjadi 75,2%. Pada kelompok pengeluaran Rp 4,1-5 juta, proporsi konsumsi mencapai 71,8%, sedangkan kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta mencapai 70,9%.
Baca Juga
Kredit Perbankan Tembus Rp 9.081 Triliun per Juni 2026, Naik 12,67%
Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan adanya fenomena dissaving, yakni rumah tangga mulai mengurangi porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan guna mempertahankan konsumsi di tengah melemahnya daya beli. “Fenomena ini sejalan dengan perlambatan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan yang menunjukkan kemampuan masyarakat untuk menabung mulai tertekan,” kata Irman kepada Investortrust.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut Irman, perlambatan tabungan paling terlihat pada kelas menengah. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat total simpanan bank umum per Juni 2026 sebesar Rp10.309 triliun, turun 0,2% secara bulanan.
Berdasarkan tingkat simpanan, porsi nominal terbesar berasal dari rekening dengan simpanan di atas Rp5 miliar. LPS mencatat 57,95% dari total nominal simpanan berasal dari rekening tersebut.
Baca Juga
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 18,62%, Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026 Sebesar 5,29%
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, pertumbuhan nominal tabungan kelas menengah melambat selama tiga bulan terakhir. “Jumlah nominalnya rekening itu naik, itu saja khususnya year on year. Memang tiga bulan terakhir itu ada perlambatan, tetap naik [tipis],” kata Anggito di kompleks parlemen, Senin (20/7/2026).
Namun, sepekan kemudian Anggito mengatakan tidak terdapat fenomena makan tabungan atau mantab. Menurutnya, tabungan di bawah Rp100 juta maupun di atas Rp5 miliar masih tumbuh. “Nggak ya, semua masih tumbuh ya. Baik itu tabungan-tabungan yang di bawah Rp100 juta maupun sampai dengan di atas Rp5 miliar semuanya tumbuh dan bergerak gitu ya,” kata Anggito di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Kredit Konsumsi Tertahn
Melihat kondisi tersebut, Irman belum dapat menyimpulkan adanya fenomena masyarakat menggunakan pinjaman untuk membiayai konsumsi. Pertumbuhan kredit konsumsi masih berada di kisaran 5,75% secara tahunan, jauh di bawah kredit investasi yang tumbuh sekitar 24,9% secara tahunan.
“Artinya, belum terlihat lonjakan utang konsumsi yang berlebihan. Yang terjadi adalah rumah tangga cenderung menggunakan tabungan yang sudah dimiliki dan menjadi lebih selektif dalam belanja, sementara ekspansi kredit masih lebih banyak didorong oleh investasi daripada konsumsi,” kata Irman.
Menurut Irman, yang perlu menjadi perhatian ke depan adalah pemulihan pendapatan riil masyarakat. Selama pertumbuhan pendapatan belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup, fenomena dissaving berpotensi berlanjut.
Baca Juga
Misbakhun Sebut Penguatan Konsumsi dan Kredit Jadi Kunci Dongkrak Ekonomi RI
“Namun, selama kualitas kredit rumah tangga tetap terjaga dan indikator perbankan masih kuat, kami menilai risiko terhadap stabilitas sistem keuangan masih relatif terbatas,” ucapnya.
Memasuki kuartal III-2026, data Office of Chief Economist (OCE) Bank Mandiri menunjukkan dinamika berbeda. Rata-rata pertumbuhan belanja masyarakat pada awal kuartal III-2026 tercatat 5,8% secara tahunan.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan belanja pada kuartal II-2026 sebesar 6,1% secara tahunan dan kuartal I-2026 sebesar 6,4% secara tahunan. Di sisi lain, pelemahan tabungan dan meningkatnya porsi pembiayaan konsumtif menunjukkan sebagian konsumsi semakin ditopang oleh leverage rumah tangga.

