Rupiah Anjlok Dekati Rp 16.000/US$, Harga Barang Elektronik Melonjak Hingga 22%
JAKARTA, investortrust.id – Anjloknya rupiah hingga mendekati Rp 16.000/US$ melambungkan harga barang elektronik hingga 22%. Kalangan pedagang pun berharap nilai tukar mata uang Garuda ini tidak sampai menembus Rp 16.000/US$, sehingga harga barang tidak semakinmelonjak di tengah daya beli masyarakat yang terasa menurun.
Berdasarkan kurs Jisdor yang dirilis Bank Indonesia, kurs rupiah sempat merosot ke Rp 15.943/US$ pada Senin 23 Oktober 2023. Pasa Selasa (24/10/2023) ini, rupiah tercatat sedikit menguat kembali terhadap greenback, di level Rp 15.869/US$.
"Harapannya buat pemerintah, dolarnya tekanin, kalau bisa jangan Rp 16.000/US$, itu berasa banget (penjualan turun). Tentunya ekonomi dapat menggeliat lagi kalau dolarnya diturunin," kata Reyhan yang tengah menjaga toko Collins Notebook kepada Investortrust.id di Harco Mangga Dua, Jakarta Utara, Senin (23/10/2023).
Baca Juga
| Pusat perdagangan Harco Mangga Dua di Jakarta Utara, Senin (23/10/2023). (Foto: Taufiq Al Hakim/Investortrust) |
Menurunkan Omzet
Harga barang-barang elektronik yang banyak dari impor atau komponennya impor itu biasanya mengacu pada pergerakan dolar AS. Rupiah yang melemah tajam terhadap dolar AS akhir-akhir ini berimbas menurunkan omzet penjualan para pedagang. Salah satunya terjadi di pusat perdagangan Harco Mangga Dua.
"Kalau yang sebelumnya itu lumayan ada penjualan, dibandingkan dengan bulan ini. Kalau Oktober ini anjlok banget, khususnya laptop. Itu mungkin pengaruh dolar naik," ujar Reyhan.
Baca Juga
Dengan melemahnya rupiah belakangan ini yang bahkan sudah menembus level Rp 15.930/US$, lanjut dia, harga barang-barang elektronik yang dijualnya naik. Harga produk laptop misalnya, melonjak 15-22%.
"Untuk semua merek laptop, dari harga Rp 9-jutaan, naiknya sudah ke Rp 10 juta hingga Rp 11 jutaan. Naiknya sekitar 15% sampai 22%," ucapnya.
Reyhan menambahkan, harga mulai naik tajam sejak memasuki Oktober 2023. Dampaknya, selama seminggu ke belakang, hanya ada satu pembeli yang membeli barang elektronik di tokonya.
"Bulan ini berasa banget (kenaikan harga), bulan kemarin stabil, lumayan ada ada penjualan. Kalau bulan ini anjlok bener, dari tanggal 15 sampai sekarang baru satu penjualan," tandasnya.
Itulah sebabnya, Reyhan berharap Pemerintah Indonesia melakukan upaya-upaya nyata agar nilai tukar rupiah kembali menguat seperti semula. Sementara itu, pekan lalu, Bank Indonesia secara tidak terduga menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke 6% guna meredam gejolak rupiah di tengah meluasnya perang Israel-Palestina dan meningkatnya tensi politik di dalam negeri menjelang akhir pendaftaran pasangan capres-cawapres Pilpres 2024 ke Komisi Pemilihan Umum.
Daya Beli Turun
Sementara itu, di toko Ijo Komputer, penjualan turun sebesar 20% sejak Agustus lalu, yang dinilai akibat daya beli masyarakat yang mulai menurun. "Untuk kenaikan harga, dibandingkan dengan sebelumnya, kalau sekarang ini belum terlalu ada kenaikan yang signifikan, karena kan kita adanya masih stok lama. Namun, kenaikan harga akan terjadi pada bulan berikutnya," ujar Nuni saat ditemui Investortrust.id di toko Ijo Komputer.
Sedangkan barang barang-barang elektronik di Hosea Komputer masih dijual dengan harga normal. “Contohnya kita jual laptop merek Lenovo Tinkpad di harga Rp 3 jutaan sekarang. Sebelumnya juga segitu,” kata Fatimah kepada Investortrust.id di toko Ijo Komputer, Jakarta, Senin (23/10/2023).
Sama seperti Reyhan, baik Nuni mapun Fatimah berharap kepada pemerintah agar ikut membantu mendorong nilai tukar rupiah kembali menguat seperti semula. (CR-2)

