Dibuka Melemah, Rupiah Berpeluang 'Rebound' di Tengah Pelemahan Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah diproyeksikan akan mengalami penguatan meski terbatas pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Posisi rupiah sendiri saat pembukaan mengalami depresiasi atau pelemahan 0,05% ke posisi Rp 17.854 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 09.08 WIB mengutip Bloomberg.
Menurut Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah. Pelemahan dolar AS terjadi karena merespons laporan bahwa AS dan Iran sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata.
Baca Juga
“Data inflasi PCE AS yang lebih lemah dari perkiraan juga menekan dolar AS,” ujar Lukman kepada investortrust.id, Jumat (29/5/2026).
Meski demikian, menurut Lukman, sentimen domestik belum begitu mendukung sehingga akan membatasi penguatan rupiah.
Beberapa mata uang di kawasan Asia mulai menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia dan baht Thailand misalnya. Dua mata uang di Asia Tenggara itu menguat, masing-masing, sebesar 0,26% dan 0,23% terhadap dolar AS.
Penguatan terhadap dolar AS juga terjadi pada yuan China dan peso Filipina. Yuan menguat sebesar 0,06% dan peso menguat sebesar 0,28%.
Dilaporkan BBC, Iran dan AS perlu menyelesaikan beberapa poin krusial sebelum kesepakatan damai dapat tercapai. Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan “kapan atau apakah” kedua pihak merampungkan perjanjian tersebut.
Kesepakatan itu dilaporkan akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memulai pembicaraan mengenai masa depan program nuklir Iran.
Sebelumnya pada Kamis (28/5/2026) waktu setempat, seorang pejabat AS mengatakan kepada BBC bahwa kedua negara telah menyepakati kerangka dasar perjanjian, sambil menunggu persetujuan dari Trump dan pimpinan Iran.
Baca Juga
Namun, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa kesepakatan tersebut belum difinalisasi maupun dikonfirmasi.
Vance mengatakan para negosiator masih bolak-balik membahas beberapa poin bahasa, termasuk masalah pengayaan nuklir. “Kami belum sampai di tahap itu, tetapi kami sudah sangat dekat dan kami akan terus mengusahakannya,” katanya kepada para wartawan.

