Wamenkeu Suahasil: Ketidakpastian Menjadi Normal Baru Setelah Pandemi Covid-19
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahazil Nazara menjelaskan tantangan terhadap perekonomian global pasca Covid-19 dan saat ini. Menurutnya, ketidakpastian menjadi normal baru.
“Saya rasa, sangat penting untuk menyadari bahwa ketidakpastian akan menjadi normal baru kita pada masa depan,” ujar Suahasil saat diskusi dengan Asean +3 Macroeconomic Research Office (AMRO), di kantor Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurut Suahasil, ketidakpastian global yang dihadapi negara-negara di dunia meliputi tiga hal, geopolitik, perdagangan, dan rantai pasok. Ini ditandai dengan munculnya Liberation Day tahun lalu.
Baca Juga
Kabar Misbakhun dan Suahasil Daftar Seleksi Ketua OJK, Purbaya Bilang Begini
“Amerika Serikat [AS] bisa melakukan itu karena merupakan negara terbesar di dunia dengan PDB terbesar, meskipun kini mulai dibayangi China,” ujar dia.
Selain PDB terbesar di dunia, AS juga mampu membelokkan arah perekonomian dunia karena dominasi dolar AS pada transaksi dunia selama beberapa dekade.
Baca Juga
Wamenkeu Suahasil Ungkap Penerimaan Pajak, Jauh dari Target Outlook APBN 2025
Suahasil menerangkan akibat keputusan AS ini, multilaterialisme runtuh. Di sisi keuangan, ada volatilitas arus modal dan penguatan dolar AS. Sementara itu, dari sektor teknologi, muncul disrupsi karena akal imitasi (AI), perdagangan digital, risiko siber, dan lain-lain.
“Kita berada di ambang situasi di mana setiap negara mungkin hanya akan memikirkan kepentingannya sendiri,” jelas dia.
Bahkan baru-baru ini, terjadi goncangan ketidakpastian akibat serangan AS terhadap Iran. Blokade Selat Hormuz mempengaruhi 20% pasokan minyak global.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Suahasil menyarankan adanya perlunya membangun stabilitas.
“Jadi stabilitas, kepastian, atau kestabilan tidak akan begitu saja diberikan kepada kita, tetapi harus dibangun sendiri oleh kita sendiri,” kata dia.
Dalam konteks Indonesia, Suahasil mengatakan pemerintah memberikan kepastian dalam menjaga APBN. Pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% secara tahunan dengan inflasi di sekitar 2,4%, serta defisit 0,93% dari PDB.
“Jadi, saya sangat berharap kombinasi tiga hal ini, bisa menunjukkan banyak kombinasi indikator lain yang menggambarkan kekuatan Indonesia,” ujar dia.

