BI Tegaskan Penggunaan LCT Bukan untuk Hindari Dolar AS
Poin Penting
|
MAKASSAR, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) gigih memperjuangkan penggunaan local currency transaction atau LCT untuk transaksi perdagangan antarnegara. BI menyatakan, penggunaan LCT bukan upaya untuk menghindari dolar Amerika Serikat (AS).
“Bukan kita menghindari, enggak mau dolar AS. Enggak,” kata Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth Cussoy Intama, saat taklimat media, di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga
Dia menyadari dolar AS masih digunakan untuk transaksi secara global. Namun, Ruth mengatakan, penggunaan LCT untuk menyederhanakan proses perdagangan.
“Tetapi, untuk negara-negara yang memang transaksi banyak langsung dengan bisa domestik, kenapa kita harus pakai dolar AS dulu karena kalau muter, sudah pasti ada middleman, sudah pasti enggak efisien,” jelas dia.
Dukungan terhadap LCT juga disuarakan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. Menurutnya, LCT dapat menjadi cara untuk mengatasi pelemahan rupiah.
“Jadi saya juga menyuarakan juga LCT,” kata Josua.
Josua berharap peran BI agar dapat menyuarakan penggunaan LCT ke bank sentral negara peers lain.
Baca Juga
BI Rate Naik Jadi 5,25% Penguatan Rupiah Dinilai Tak Bisa Hanya Andalkan Kebijakan Moneter
Berdasarkan data, sampai dengan April 2026, transaksi LCT mencapai US$ 22,61 miliar. Angka ini meningkat 309% secara tahunan dibandingkan US$ 7,83 miliar yang tercatat pada Januari-April 2025.
Distribusi LCT terbesar berasal dari China. Distribusinya mencapai 89%. Sementara itu, distribusi LCT Jepang dan Malaysia mencapai masing-masing 6% dan 3%. Jumlah pelaku LCT juga terus mengalami peningkatan mencapai 5.265 per bulan pada 2026.

