"Tabola Bale" Guncang Istana Merdeka di HUT ke-80 RI, Ini Pencipta, Makna, dan Genre Lagunya
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2025 diwarnai oleh sebuah momen yang tak terlupakan. Penyanyi asal Flores, Siprianus Bhuka yang dikenal dengan nama panggung Silet Open Up, tampil membawakan lagu berjudul Tabola Bale bersama Diva Aurel.
Penampilan ini sontak membuat para tamu undangan, mulai dari Presiden Prabowo Subianto, para menteri, hingga tokoh-tokoh nasional seperti Iriana Jokowi dan Titiek Soeharto, berdiri dari kursinya untuk ikut berjoget bersama. Suasana meriah tersebut menjadi penutup rangkaian upacara Detik-detik Proklamasi yang penuh haru sekaligus gembira.
Lagu Tabola Bale sendiri diciptakan oleh Silet Open Up bersama Jacson Zeran, Juan Reza, dan Kiki Acoustic. Kolaborasi keempat musisi ini melahirkan sebuah karya yang segar dengan memadukan dialek khas Indonesia Timur dan bahasa Minang. Video musiknya dirilis pada 3 April 2025 dan hingga Agustus tahun yang sama telah disaksikan lebih dari 74 juta kali di YouTube. Popularitas lagu ini bahkan membuatnya menduduki peringkat pertama Top 50 Indonesia di Spotify.
Menariknya, sempat beredar anggapan bahwa lagu ini merupakan lagu yang berasal dari Minang. Apalagi dalam sejumlah bait lirik lagunya, menggunakan bahasa Minang sehingga menjadi sebuah duet lintas budaya, dan muncullah anggapan bahwa lagu tersebut merupakan lagu Minang. Namun sejatinya lagu ini sangat kental dengan alunan nada-nada khas Flores.
Adalah irama atau beat Ja’i , atau pola ritme khas yang digunakan dalam tarian tradisional asal Flores, atau wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi dasar dari alunan nada "Tabola Bale" yang diciptakan oleh Siprianus Bhuka dan kawan-kawan. Awalnya tiga orang penciptanya yang berasal dari Flores ini mengarang lagu "Tabola Bale" dalam logat Flores dan berdasar pengalaman mereka sebagai orang Flores. Genre juga sesuai dengan beat irama ja’i, tarian Ngada, Flores. Ja’i sendiri adalah tarian pergaulan sekaligus tarian syukur masyarakat Flores, biasanya dibawakan secara berkelompok dengan gerakan berulang-ulang dan penuh semangat.
Belakangan hadir versi logat Minang yang dibuat ketika Ariel dan suaminya terlibat memberikan pelatihan terhadap para pemuda Flores ini cara menggunakan media sosial.
Sementara itu menurut penjelasan para penciptanya, Tabola Bale lahir dari kegelisahan terhadap monotonnya musik yang ada di pasaran. Mereka ingin menghadirkan nuansa baru yang sekaligus merepresentasikan warna budaya daerah. Lirik lagu ini menggambarkan perasaan seorang laki-laki yang gelisah ketika melihat perempuan yang dicintainya, bernama Maimuna, kembali dari perantauan dengan penampilan yang semakin memesona. Kisah percintaan sederhana itu diramu dengan melodi enerjik dan ritme pesta yang membuat siapa pun sulit untuk diam mendengarnya.
Silet Open Up, sang vokalis utama sekaligus salah satu pencipta, adalah pemuda asal Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur, kelahiran 22 November 1993. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan musik karena keluarganya memang dekat dengan dunia tarik suara. Karier musiknya berkembang saat kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Silet pernah bergabung dengan grup hip hop bernama DMC, lalu memilih bersolo karier dengan mencoba berbagai genre, mulai dari RnB, rap, hingga musik pesta. Ia mengaku bahwa musik pesta yang dipadukan dengan rap dan hip hop akhirnya menjadi jalur yang nyaman sekaligus menghasilkan secara komersial.
Nama Silet Open Up kian dikenal setelah tampil di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2023, menggoyang tamu negara dengan musiknya. Ia juga mewakili Indonesia dalam festival internasional ABU TV Song 2024 di Istanbul, Turki, dengan lagu Kaka Main Salah. Kepopulerannya semakin meluas ketika Tabola Bale dirilis, membawa warna baru dalam peta musik nasional.
Selain Silet, kolaboratornya Juan Reza juga memiliki perjalanan musik yang menarik. Juan adalah penyanyi dan penulis lagu asal Ende, Flores, yang kini berkarya di Yogyakarta. Ia dikenal lewat lagu Pica Pica yang dirilis pada 2024 dan langsung viral di berbagai platform media sosial. Lagu ini bahkan melahirkan sekuelnya pada 2025, yaitu Pica Pica 2, yang semakin meneguhkan posisinya sebagai musisi muda yang berhasil menggabungkan unsur budaya lokal dengan musik modern.
Jacson Zeran, sosok lain di balik Tabola Bale, merupakan musisi yang juga aktif menciptakan karya-karya bernuansa kultural yang kerap viral di media sosial. Kolaborasinya dengan Juan Reza dalam beberapa lagu membuat namanya dikenal sebagai bagian dari gerakan musik daerah yang diangkat ke panggung nasional. Sementara itu, Kiki Acoustic berperan penting dalam pengolahan musikal, memberi sentuhan akustik dan nuansa segar yang membuat Tabola Bale berbeda dari lagu-lagu pesta lainnya.
Makna mendalam dalam lagu Tabola Bale tak hanya terletak pada kisah cintanya, melainkan juga pada semangat keberagaman bahasa dan budaya yang diusung. Dengan memadukan bahasa Minang dan dialek NTT, lagu ini menjadi simbol persatuan yang nyata. Inilah alasan mengapa saat dinyanyikan di Istana Merdeka, semua kalangan dari pejabat tinggi negara hingga masyarakat biasa dapat merasakan energi positif yang dipancarkannya.
Secara genre, Tabola Bale dapat dikategorikan sebagai musik pesta dengan campuran hip hop, rap, dan RnB, namun tetap menonjolkan nuansa etnik khas Indonesia Timur. Genre ini semakin populer di kalangan generasi muda karena selaras dengan tren musik yang enerjik dan mudah digunakan dalam konten media sosial seperti TikTok.
Fenomena Tabola Bale mengingatkan publik pada kepopuleran lagu Gemu Famire atau lebih dikenal sebagai Maumere. Lagu ciptaan Frans Cornelis Dian Bunda atau Nyong Franco ini sejak 2012 telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan senam massal di seluruh Indonesia. Liriknya sederhana dengan dominasi bunyi tangga nada seperti do, re, mi, fa, yang sekaligus menjadi instruksi dalam gerakan tari.
Gemu Famire semakin populer setelah banyak digunakan sebagai pengiring senam bersama dan tarian massal. Bahkan pada 2018, lagu ini pernah ditarikan oleh 346.829 penari dalam rangka HUT TNI ke-73 dan masuk ke dalam rekor MURI. Hingga kini, lagu tersebut masih menjadi anthem senam Nusantara dan membuktikan bahwa musik dari NTT memiliki daya jangkau nasional yang luar biasa.
Baik Tabola Bale maupun Gemu Famire menunjukkan betapa musik asal NTT memiliki kekuatan besar untuk menyatukan orang dalam suasana suka cita. Dari pesta rakyat hingga istana negara, musik-musik ini menjadi medium yang memperlihatkan semangat persatuan, kebersamaan, dan keceriaan bangsa Indonesia.
Dengan popularitasnya yang terus menanjak, Tabola Bale diperkirakan akan mengikuti jejak Gemu Famire sebagai salah satu lagu rakyat modern yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dari jalanan Yogyakarta, studio musik Flores, hingga Istana Merdeka, lagu ini telah menjadi simbol bahwa musik daerah mampu menembus batas dan menjadi identitas budaya bangsa di era globalisasi.

