Sinopsis Women from Rote island, Cerita Haru Buruh Migran Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Pada Selasa (14/11) malam yang meriah di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Festival Film Indonesia 2023 menutup tirainya dengan penuh antusiasme. Festival tahunan yang dinanti-nantikan oleh pecinta perfilman Indonesia tersebut berhasil memunculkan berbagai karya inspiratif, dengan "Women from Rote Island" berhasil meraih Piala Citra sebagai Film Cerita Panjang Terbaik.
Film ini berhasil mengalahkan beberapa judul dari kategori tersebut, yaitu Like & Share, Budi Pekerti, Sleep Call, dan 24 Jam Bersama Gaspar.
Baca Juga
Daftar Pemenang Piala Citra FFI 2023, Women From Rote Island dan Like & Share Borong Penghargaan
"Women from Rote Island", karya sutradara Jeremias Nyangoen, menceritakan kisah seorang perempuan berhadapan dengan diskriminasi dan tradisi turun temurun yang membuat perempuan selalu menjadi gender kedua, di bawah laki-laki, dan menjadi korban kekerasan.
Penghargaan utama ini menandai pencapaian luar biasa bagi tim produksi film ini, dari penulis skenario hingga para pemain yang memberikan performa yang mengesankan. Sutradara Jeremias Nyangoen menyampaikan terima kasihnya kepada seluruh kru, pemain dan penonton yang telah memberikan dukungan dan apresiasi yang luar biasa.
Selain itu, beberapa film lain juga meraih penghargaan bergengsi, seperti "24 Jam Bersama Gaspar" yang memenangkan kategori Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik untuk karya M Irfan Ramli, serta "Budi Pekerti" yang meraih penghargaan Pemeran Utama Perempuan Terbaik bagi peran yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti.
Sinopsis Women from Rote Island
Film ini mengisahkan kisah Martha, seorang wanita berusia 23 tahun yang bekerja sebagai TKI ilegal di Sabah, Malaysia. Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya Martha berhasil kembali pulang ke tanah air. Namun, kepulangannya tidaklah mudah karena terdapat pesan terakhir dari ayahnya, suami dari Orpa yang berusia 45 tahun, dengan pesan, “Tidak ada pemakaman sebelum Marta kembali.”
Kembalinya Martha menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarganya, terutama bagi Orpa dan Berta, anak bungsunya yang berusia 18 tahun. Kehadirannya juga memberikan kebahagiaan bagi Damar-jati, mantan pacar Martha dari masa SMA yang kini sukses dengan bisnis tanaman hias.
Namun, di balik senyum dan kebahagiaan itu, Martha berjuang melawan depresi yang dalam akibat dari pemerkosaan yang ia alami saat bekerja sebagai buruh kelapa sawit di perkebunan selama dua tahun di luar negeri. Film ini mengangkat kisah wanita-wanita yang berjuang untuk kehidupan yang lebih baik, namun sering kali mengalami kekerasan dan kesulitan yang besar.

